fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Fala Adinda

Vaksin DPT adalah salah satu jenis vaksin yang wajib diberikan pada anak sebelum usia satu tahun. Pemberian vaksin ini bertujuan untuk mencegah infeksi penyakit difteri, pertusis atau batuk rejan, dan tetanus sejak dini. Jadi, apabila suatu saat nanti tubuh terinfeksi oleh ketiga penyakit tersebut, maka anak tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan saja (Baca juga Vaksin Hepatitis B: Dosis, Indikasi, dan Efek Samping).

Informasi

Tujuan imunisasi DPT untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Ikatan Dokter Anak Indonesia menganjurkan pemberian vaksin DPT sebanyak tiga kali dengan rentang jadwal usia berikut ini.

  • Imunisasi DPT 1 saat usia 2 bulan
  • Imunisasi DPT 2 saat usia 3 bulan
  • Imunisasi DPT 3 saat usia 4 bulan

Kemudian, dilanjutkan dengan imunisasi ulangan (DPT 4) atau booster saat usia 18 bulan dan terakhir, DPT 5 saat usia masuk sekolah yaitu usia 5-7 tahun.

Dosis   

Vaksin DPT berisi kuman difteri, pertusis, dan tetanus yang telah dilemahkan. Vaksin ini tersedia di Puskesmas dan bisa diperoleh secara gratis. Namun, perlu diwaspadai bahwa pemberian vaksin DPT dapat menyebabkan bayi demam selama 3 hari sehingga harus disertai dengan obat penurun panas.

vaksin dpt adalah
Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib bagi anak dibawah satu tahun untuk mencegah infeksi penyakit difteri, pertusis, dan tetanus sejak dini.

Cara pemberian vaksin dengan disuntikkan secara intramuskular melalui otot. Sebaiknya, penyuntikan dilakukan pada paha atas bagian depan. Dosis vaksin DPT untuk satu anak adalah 0.5 ml. Penyuntikan vaksin di area bokong perlu dihindari karena berisiko menyebabkan saraf luka dibagian tersebut. Suntikan pun tidak boleh diberikan didalam kulit karena meningkatkan reaksi lokal pada kulit.

Kontraindikasi

Pemberian vaksin DPT harus mempertimbangkan beberapa kondisi anak berikut ini, seperti:

  • Saat anak sedang sakit dengan tingkat keparahan sedang atau berat, tidak boleh mendapatkan vaksin DPT. Anak baru bisa mendapatkan imunisasi setelah kesehatan kembali pulih. Namun, jika kondisi anak hanya sakit ringan, misalnya batuk, pilek, atau demam ringan, pemberian vaksin DPT masih aman dan bisa dilakukan.
  • Anak mengalami reaksi alergi berat yang mengancam nyawa usai imunisasi. Jika hal ini terjadi, maka anak tidak boleh mendapatkan imunisasi lanjutan.
  • Anak mengalami gangguan otak atau sistem saraf dalam waktu tujuh hari setelah vaksinasi. Jika kondisi ini terjadi, maka anak tidak dianjurkan mendapatkan imunisasi lanjutan.

Interaksi dengan Obat Lain

Beritahu dokter obat apa saja yang sedang anak Anda konsumsi untuk menghindari interaksi. Pasalnya, pemberian vaksin DPT bersama dengan konsumsi obat-obatan tertentu dapat mengubah cara kerja atau menimbulkan efek samping serius. Berikut adalah beberapa obat yang berinteraksi dengan vaksin DPT.

  • Obat pengencer darah, seperti warfarin
  • Kortikosteroid, seperti hydrocortisone dan prednisone
  • Obat kemoterapi 
  • Obat imunosupresan, seperti cyclosporine dan tacrolimus

Kelompok Orang Berisiko

Vaksin DPT diberikan sejak bayi sebagai imunisasi rutin lengkap dan orang dewasa dengan kondisi berikut ini.

  • Orang dewasa atau wanita hamil yang belum mendapatkan vaksin DPT
  • Orang yang akan berkunjung ke negara dengan kasus DPT terbanyak
  • Petugas kesehatan yang berhadapan dengan pasien DPT
  • Pengasuh bayi yang sedang mengurus bayi baru lahir
  • Wanita hamil trimester ke-3. Tujuan vaksinasi untuk mencegah calon bayi terkena batuk rejan.

Bagi ibu hamil dan menyusui, sebelum mendapatkan vaksin DPT, dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter terlebih dulu. Obat hanya boleh diberikan apabila manfaat yang diharapkan lebih besar dari risiko terhadap janin.

Efek Samping

Pemberian imunisasi DPT menimbulkan efek samping yang sangat bervariasi bagi setiap anak, mulai dari reaksi lokal yang ringan  hingga reaksi sistemik yang berat. Meski demikian, risiko mendapatkan vaksin DPT ini jauh lebih kecil daripada risiko menderita penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang dapat timbul dari vaksinasi DPT.

  • Reaksi lokal di sekitar area penyuntikan, seperti kemerahan, bengkak, serta nyeri.
  • Demam tinggi lebih dari 38.5 derajat Celcius
  • Rewel dan menangis dengan nada lebih tinggi
  • Muntah, lemas, dan tidak nafsu makan
  • Kejang demam (dilaporkan sebanyak 0.008%)
  • Reaksi alergi sistemik

Efek samping diatas dapat muncul dalam waktu satu hingga tiga hari setelah vaksinasi, namun biasanya akan langsung hilang dengan cepat. Berikan obat paracetamol untuk meredakan demam dan nyeri pada anak dengan dosis yang sesuai aturan. Untuk anak dibawah usia 18 tahun, hindari pemberian aspirin karena berisiko menyebabkan sindrom Reye yang mengancam jiwa.

Meskipun jarang terjadi, namun jika anak Anda mengalami gangguan kesehatan serius usai vaksinasi DPT seperti kejang, tidak berhenti menangis setelah tiga jam, dan demam diatas 40 derajat Celcius, sebaiknya segera hubungi dokter.

Cara Konsumsi

Vaksin DPT wajib diberikan pada anak-anak sejak usia belum genap satu tahun.  Pemberian vaksin hanya boleh disuntikkan oleh dokter atau tenaga medis profesional. Bagi anak usia satu tahun hingga kurang dari 18 tahun yang belum mendapatkan vaksin ini, segera bawa ke puskesmas untuk diberikan vaksin DPT.

Beli obat tanpa perlu antri di apotek dengan Lifepack. Unduh aplikasi Lifepack melalui Google Play Store maupun App Store sekarang. Atau Anda bisa dapatkan rekomendasi produk suplemen dan vitamin terbaik di Jovee.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis