fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Fala Adinda

HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan jenis virus yang lambat laun akan merusak kekebalan tubuh. Caranya adalah dengan menginfeksi kemudian menghancurkan sel CD4. Dalam kasus ini, semakin sel CD4 yang hancur maka kekebalan tubuh pun akan semakin melemah. Lemahnya kekebalan tubuh tersebut dapat menyebabkan seseorang rentan mengalami berbagai macam penyakit.

Informasi

Infeksi HIV yang tidak segera mendapatkan penanganan maka lambat laun akan berkembang menjadi kondisi yang sangat serius, Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS. AIDS merupakan stadium terakhir dari infeksi yang disebabkan oleh virus HIV. Jika sudah masuk tahap ini, maka tubuh akan kehilangan seluruh kemampuan untuk melawan infeksi (Baca juga 3 Tahapan Penyakit HIV AIDS yang Perlu Anda Ketahui).

Sayangnya, Sampai dengan saat ini belum ditemukan obat untuk menangani HIV / AIDS. Namun, terdapat obat yang mampu memperlambat perkembangan penyakit tersebut sehingga harapan hidup penderita dapat meningkat.

Gejala

HIV pada awalnya tidak menimbulkan gejala apapun terutama pada tahap infeksi akut. Gejala sendiri umumnya timbul setelah 1-2 bulan terinfeksi. Namun, penderita umumnya tidak menyadari karena gejalanya yang mirip dengan flu biasa. Oleh sebab itu, penyebaran virus lebih rentan terjadi pada tahap ini. Jika tidak ditangani, maka HIV akan masuk pada tahap selanjutnya yakni Infeksi tahap laten. 

Tidak semua penderita akan merasakan gejala pada tahap ini. Sayangnya, jika terlambat mendapatkan penanganan maka, infeksi akan memasuki tahap akhir yakni AIDS. Pada tahap ini sistem kekebalan tubuh akan mengalami kerusakan yang parah. Gejala HIV AIDS sendiri meliputi:

  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Berkeringat di malam hari
  • Muncul bercak putih pada anus, lidah serta kelamin
  • Muncul bintik ungu yang tidak bisa hilang di kulit
  • Demam lebih dari 10 hari
  • Diare kronis
  • Gangguan saraf, seperti sulit berkonsentrasi atau hilang ingatan
  • Infeksi jamur pada area mulut, tenggorokan, atau bisa juga pada vagina
  • Mudah memar atau berdarah tanpa ada penyebab
  • Mudah marah serta depresi (Baca juga Mencegah Depresi dengan Berolahraga, Memang Bisa?)
  • Ruam
  • Sesak napas
  • Tubuh selalu terasa lemah

Penyebab

hiv-aids

AIDS disebabkan oleh HIV atau human immunodeficiency virus. HIV kemudian masuk ke dalam tubuh lalu menghancurkan sel CD4. Sel CD4 ini adalah sel yang penting untuk melawan berbagai infeksi. Semakin banyak sel yang hancur, maka sistem kekebalan tubuh pun akan semakin melemah. Sedangkan untuk penularannya dapat terjadi jika sperma, darah atau cairan vagina yang berasal dari orang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain. Penularan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti

Hubungan Seksual yang Dilakukan Baik secara Anal (Dubur) Maupun Vagina

Hubungan seksual ini juga dapat disebarkan melalui seks oral meski kasusnya cukup jarang.

Berbagi Jarum Suntik

Berbagi jarum suntik lebih berisiko saat melakukan pembuatan tato maupun saat menggunakan NAPZA suntik.

Transfusi Darah

Transfusi darah dapat menjadi salah satu penularan HIV / AIDS. Penularan dapat terjadi jika menerima donor dari penderita HIV

  • Dapat menular dari ibu yang menderita HIV kepada janinnya.

Faktor Risiko

HIV sendiri dapat menginfeksi siapapun. Namun risikonya dapat meningkat jika:

  1. Pria heteroseksual atau melakukan seks sesama jenis
  2. Melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom
  3. Berbagi suntikan

Diagnosis

Guna memastikan pasien terinfeksi HIV atau tidak, maka perlu dilakukan sejumlah tes HIV. Tes tersebut meliputi, tes antibodi serta tes antigen. Bila hasil tes tersebut menunjukkan positif HIV maka diperlukan tes lanjutan yang berguna untuk mengetahui tahap infeksi yang diderita. Beberapa tes lanjutan tersebut meliputi:

Hitung Sel CD4

Tes ini berguna untuk mengetahui jumlah sel DC4 dalam tubuh. Jika HIV telah berkembang menjadi AIDS, maka jumlah sel CD4 berada dibawah 200 sel per milimeter kubik darah.

Pemeriksaan Viral Load (HIV RNA)

Pemeriksaan ini bertujuan guna menghitung RNA. Jika jumlah RNA mencapai 100.000 kopi per milliliter darah maka tandanya infeksi HIV baru terjadi atau tidak ditangani.

Tes Resistensi (Kekebalan) Terhadap Obat

Tes ini berguna untuk membantu dokter guna menentukan obat paling tepat untuk pasien.

Pengobatan

Meskipun belum ditemukan obat untuk menyembuhkan HIV AIDS, namun, ada beberapa jenis obat yang mampu memperlambat perkembangan virus itu sendiri. Obat ini disebut dengan antiretroviral (ARV) Beberapa jenis obat ARV yang biasa diberikan, antara lain:

  1. Efavirenz
  2. Etravirine
  3. Nevirapine
  4. Lamivudin
  5. Zidovudine

Selama mengkonsumsi obat tersebut, dokter akan terus memantau perkembangan jumlah sel CD4 serta jumlah virus untuk mengetahui respon tubuh pasien selama mengkonsumsi obat. Melakukan hitung sel cd4 sendiri dilakukan dalam kurun 3-6 bulan. Sedangkan untuk pemeriksaan RNA dilakukan sejak pengobatan awal dan dilanjutkan tiap 3-4 bulan.

Penting sekali untuk cepat mengkonsumsi obat ARV, semakin menunda pengobatan maka kondisi pasien akan semakin melemah dan HIV semakin sulit dikendalikan.

Pencegahan

Pencegahan penyakit HIV AIDS dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menggunakan kondom ketika berhubungan seksual
  2. Hindari melakukan seks dengan lebih dari satu pasangan
  3. Tidak berbagi jarum suntik

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis