fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Denny Archiando

Obesitas atau kegemukan merupakan kondisi tubuh dengan penumpukan lemak yang tidak normal atau berlebihan. Hal ini tidak boleh dibiarkan karena jika terus-menerus akan memengaruhi kesehatan penderita. Tidak hanya berdampak pada fisik, obesitas akan meningkatkan risiko penyakit lain yang lebih serius, seperti penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Bahkan, inijuga menyebabkan masalah psikologis, seperti stress dan depresi pada penderita.

Informasi

Obesitas berbeda dengan berat badan berlebih (overweight). Overweight atau kenaikan berat badan terjadi karena lemak berlebih, massa otot, atau cairan dalam tubuh. Kondisi ini juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Sedangkan obesitas sudah pasti karena lemak yang lebih. 

Obesitas dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Seseorang dapat berisiko mengalami hal ini apabila tidak menjaga pola makan dan olahraga yang cukup. Biasanya, kondisi ini diderita oleh orang-orang dengan pekerjaan administratif atau kantoran yang cenderung malas gerak. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2010, ada sekitar 23% orang dewasa mengalami hal ini, dengan wanita lebih banyak dibanding pria. 

Gejala

Sebenarnya, obesitas tidak menunjukkan gejala yang pasti. Sekilas, orang dengangangguan ini cenderung memiliki tubuh lebih besar dan gemuk. Padahal, orang yang gemuk belum tentu obesitas, sedangkan orang yang obesitas sudah pasti bertubuh gemuk. Nah, untuk memastikan apakah seseorang termasuk dalam kategori obesitas atau tidak, berikut ini cara menentukannya.

Body Mass Index (BMI)

Cara ini paling sering digunakan karena mudah digunakan. Perhitungan berat badan dan tinggi badan BMI yaitu:

BMI = berat badan (kg) / (tinggi badan (m) x tinggi badan (m))

Dari hasil perhitungan BMI diatas, maka terbagi menjadi beberapa kategori. Apabila hasilnya kurang dari 18.5 termasuk kekurangan berat badan, antara 18.5-24.9 termasuk normal (ideal), antara 25-29.9 termasuk kelebihan berat badan, 30 atau lebih termasuk obesitas, dan 40 ke atas termasuk tingkat obesitas yang serius.

Namun, BMI saja tidak cukup untuk mengukur obesitas yang akurat, misalnya para atlet dengan body building tertentu. Jadi, konsultasi dengan dokter untuk mengetahui detail tingkat obesitas Anda.

  • Lingkar pinggang
  • Rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP)
  • Tebal lipatan kulit menggunakan alat ukur skinfold
  • Kadar lemak tubuh menggunakan alat bioelectrical impedance analysis (BIA)

Ini dapat meningkatkan risiko terkena penyakit lain yang lebih berbahaya, seperti hipertensi, diabetes, hingga jantung koroner. Beberapa risiko lainnya yaitu arthritis hingga menyebabkan sesak nafas, sleep apnea, dan mudah lelah.

Penyebab

Obesitas disebabkan oleh kadar kalori dalam tubuh yang berlebih. Penumpukan kadar kalori ini disebabkan oleh berbagai faktor. Interaksi antar faktor menyebabkan seseorang mengalami obesitas (Baca juga Seberapa Bahayanya Obesitas pada Anak?).

Faktor Risiko

obesitas-adalah

Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami kenaikan berat badan dan obesitas.

Genetik

Anak dari orangtua yang obesitas memiliki risiko mengalami hal serupa lebih besar dibandingkan anak dari orangtua dengan berat badan normal. Meski demikian, ini tidak sepenuhnya ditentukan oleh genetik karena apa yang dikonsumsi lebih memicu obesitas.

Junk Food

Junk food adalah makanan dengan kandungan gula, lemak, garam, dan minyak yang tinggi ditambah paduan rasa lainnya sehingga sangat nikmat dan addict. Tak sadar, banyak orang sering mengonsumsi junk food sehingga lemak dan kalori bertambah.

  • Obat-obatan tertentu, terutama obat tanpa resep dokter dan obat lainnya seperti antidepresan, obat diabetes, dan antipsikotik.
  • Stress, diikuti dengan kebiasaan makan lebih banyak untuk meredakan suasana hatinya.
  • Malas bergerak, sehingga kurang aktivitas fisik dan kalori tubuh menumpuk karena tidak terbakar.
  • Kurang tidur

Berdasarkan hasil penelitian, seseorang yang tidak cukup tidur memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami obesitas.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis obesitas, seseorang memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25. Kemudian, penanganan obesitas dilakukan guna mencapai berat badan normal dan sehat. Untuk itu, diperlukan beberapa upaya berupa perubahan pola makan, menahan nafsu makan, dan peningkatan aktivitas fisik. 

Pengobatan

Beberapa metode pengobatan untuk mengatasi obesitas antara lain:

  • Mengonsumsi obat penurun berat badan
  • Mengikuti konseling dan support group untuk mengatasi masalah psikologis yang memengaruhi berat badan
  • Menjalani operasi bariatrik
  • Diet kalori rendah
  • Memiliki pola makan yang sehat
  • Olahraga secara teratur
  • Bagi pengidap obesitas tanpa penyakit lain, akan dipertimbangkan mengonsumsi obat sindroma metabolik dan penurun nafsu makan
  • Pembedahan lambung (jarang terjadi)

Pencegahan

Untuk mencegah kenaikan badan berlebih, berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan.

  • Berolahraga secara teratur, sekitar 150 hingga 300 menit setiap minggu
  • Kegiatan fisik yang intens, seperti berjalan cepat dan berenang
  • Konsumsi makanan yang sehat, rendah kalori, padat nutrisi, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.
  • Hindari lemak jenuh
  • Batasi konsumsi permen dan alkohol

Menurunkan berat badan tidaklah mudah dan singkat. Maka, milikilah pola pikir bahwa gaya hidup sehat harus dilakukan terus menerus, apabila berat badan menurun maka itu adalah bonus tubuh yang sehat. Segera hubungi dokter bila tubuh sulit bergerak untuk beraktivitas sehari-hari.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis