fbpx

Mengenal Seluk Beluk Serangan Jantung

Sep 16, 2020 | Jantung | 0 Komentar

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Denny Archiando

Oksigen merupakan komponen anorganik yang vital untuk tubuh. Tanpa pasokan oksigen, organ-organ di dalam tubuh tidak akan mampu berfungsi dengan baik. Organ vital seperti jantung terutama membutuhkan oksigen dalam kadar tinggi untuk memastikan bahwa fungsinya memompa darah ke seluruh tubuh tetap berjalan dengan normal. Kondisi ketika aliran darah kaya oksigen ke jantung terhambat menjadi penyebab serangan jantung. Istilah medis yang biasa digunakan untuk menyebut kondisi ini adalah myocardial infarction

Hal ini berarti matinya jaringan pada otot jantung karena tidak adanya pasokan oksigen. Apabila kondisi berlanjut, maka kerusakan parah dapat terjadi pada otot jantung. Bahkan setelah serangan selesai, efeknya masih bisa terasa di tubuh penderita yaitu kemampuan jantung memompa darah menjadi lebih lemah. Penyumbatan saluran darah ke jantung dapat bersifat parsial maupun keseluruhan. 

Serangan Jantung dan Atherosclerosis

Terdapat beberapa alasan yang membuat serangan jantung terjadi. Alasan paling umum merupakan atherosclerosis atau penumpukan plak (dapat berupa lemak, protein, sel-sel terinflamasi, maupun kalsium) di dalam arteri. 

Ketika bagian luar dari plak yang mengeras retak, maka zat-zat di dalam plak akan berinteraksi dengan darah dan membentuk gumpalan darah. Gumpalan ini akan menghambat aliran darah menuju ke jantung sehingga organ tersebut tidak memperoleh pasokan oksigen yang dibutuhkan. Sel-sel otot jantung bisa mati dan kerusakan ini bersifat permanen.

Kejang Otot Arteri Koroner

Penyebab lain dari serangan jantung yang dikenal adalah kejang otot arteri koroner atau diistilahkan dalam bahasa Inggris sebagai coronary artery spasm. Otot pembuluh darah yang menuju ke jantung tiba-tiba berkontraksi sehingga salurannya menjadi sempit dan mencegah darah melaluinya dengan lancar. Akibatnya, pasokan darah kaya oksigen ke jantung menjadi terhambat. 

Sesungguhnya keadaan ini tidak berlangsung lama dan kejang tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Namun dalam waktu singkat tersebut, komplikasi akibat serangan jantung yang terjadi dapat menimbulkan efek yang cukup fatal.

Faktor Risiko Serangan Jantung 

Ada faktor-faktor risiko yang menjadi penyebab orang lebih mungkin mengalami serangan jantung dibandingkan dengan orang lain. Faktor usia merupakan faktor risiko pertama yang menjadi penyebab serangan jantung. Orang berusia di atas 45 tahun lebih rentan terhadap serangan jantung dibandingkan dengan orang yang lebih muda. 

Gaya hidup juga merupakan kontributor besar terhadap adanya risiko serangan jantung. Orang yang jarang melakukan aktivitas fisik sehari-harinya lebih cenderung mengalami gangguan ini. Selain itu konsumsi rokok dan obat-obatan psikotropika juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung yang tiba-tiba pada seseorang.

Orang yang memiliki masalah kesehatan bawaan juga bisa jadi mengalami gangguan ini. Penderita hipertensi bisa terkena serangan jantung karena tekanan darah yang tinggi secara perlahan merusak dinding arteri yang menuju ke jantung. 

Diabetes juga menjadi salah satu penyakit bawaan yang membuat penderitanya berisiko mengalami penyumbatan pembuluh darah ke jantung. Hal ini dikarenakan terdapat penumpukkan zat gula di dalam darah. Penyakit autoimun seperti lupus dan artritis juga bisa memicu terjadinya penyumbatan arteri koroner. Perlu dilakukan usaha-usaha untuk mencegah dampak dari penyakit bawaan agar tidak berkembang menjadi komplikasi pada jantung dan organ-organ lainnya. 

Gejala Sebelum Sakit Jantung Menyerang

Serangan jantung ada yang bersifat kronis dan ada yang bersifat akut. Di semua kasus, mengenali gejala-gejala yang umum terjadi merupakan hal terpenting guna melakukan tindakan penanganan yang baik dan tepat waktu. 

Seseorang biasanya merasa tidak nyaman dan berat di area-area tubuh tertentu seperti punggung, dada, bahu, maupun leher ketika jantung tidak mendapat suplai oksigen yang cukup. Gangguan ini juga ditandai dengan rasa lelah. Penderita bisa merasa pusing dan mual. Selain itu ada gejala lain berupa nafas yang pendek-pendek. Pada wanita, terkadang muncul perasaan cemas yang tidak dapat dijelaskan. Pada wanita, serangan ini juga seringkali dikira sebagai gangguan pencernaan.

Tes Elektrokardiogram & Tes Darah saat Diagnosa

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami serangan jantung, tentunya melihat gejala umum saja tidak cukup. Harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui masalah kesehatan apa yang diderita. Pada umumnya dokter akan melakukan tes elektrokardiogram untuk melihat apakah ada jaringan otot jantung yang mengalami kerusakan. Jaringan yang rusak biasanya tidak dapat menunjukkan sinyal elektrik secara normal. 

Jenis tes kedua yang umumnya dilakukan adalah tes darah. Pada darah orang yang pernah mengalami serangan jantung terdapat enzim khusus yang berasal dari jantung dan akan bisa dideteksi melalui tes yang dilakukan.

Kecepatan diagnosis merupakan hal terpenting dalam penanganan masalah ini. Apabila dibiarkan tanpa penanganan, semakin banyak sel-sel jantung yang tumbang. Hal tersebut akan menurunkan kinerja jantung dan bahkan menimbulkan komplikasi berbahaya seperti berhentinya denyut jantung. Dokter akan menyarankan beberapa metode penanganan seperti obat-obatan dan terapi untuk merehabilitasi sel-sel jantung yang rusak. Akan tetapi, pada kasus di mana kerusakan sudah cukup parah maka pasien harus menjalani operasi untuk mengatasi gangguan yang dihadapi. Bentuk operasi yang umum dilakukan adalah operasi bypass maupun pemasangan ring jantung.

Kami dapat membantu anda memenuhi kebutuhan dan beli obat untuk penyakit kronis. Unduh aplikasi Lifepack melalui Google Play Store maupun App Store sekarang.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis