Hepatitis D

Jul 7, 2020 | penyakitH | 0 Komentar

Artikel ini telah ditinjau oleh Aileen Velishya

Ditinjau oleh: dr. Irma Lidia

Penyakit Hepatitis D adalah penyakit yang timbul akibat serangan virus sama seperti penyakit hepatitis pada umumnya. Hanya saja, bisa dikatakan bahwa jumlah penderita Hepatitis D sedikit lebih rendah ketimbang Hepatitis B, mengingat HDV membutuhkan inang berupa virus Hepatitis B untuk bisa memperbanyak diri. 

Informasi 

Penyakit Hepatitis D terjadi akibat serangan virus HDV atau juga dikenal sebagai virus hepatitis delta. Virus HDV baru dapat menyerang organ hati apabila terdapat inang berupa virus Hepatitis B.  Oleh karena itu penyakit ini hanya akan timbul pada mereka yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus Hepatitis B. Pada beberapa kasus, penderita Hepatitis B bisa mengalami HDV secara bersamaan. 

Ketika tubuh seseorang terkena serangan HDV, maka organ hati akan mengalami radang dan kerusakan. Organ hati yang rusak bisa menyebabkan fungsinya menurun. Padahal hati berfungsi untuk menyaring zat racun serta berperan dalam metabolisme tubuh. Penyakit HDV bisa terjadi secara kronis maupun akut. HDV yang akut akan menimbulkan gejala yang lebih buruk ketimbang HDV kronis.  Infeksi HDV dapat berakibat pada sirosis dan kanker hati (hepatocellular cancer).

Gejala 

Patut dipahami bahwa virus HDV sudah dapat ditularkan ke orang lain meski penderita belum mengalami gejala munculnya penyakit ini. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin agar terhindar dari penyakit ini. Apalagi mengingat sifat dari HDV memang asimptomatik sehingga hanya memunculkan gejala ke sekitar 10 persen dari total penderitanya. 

Pada beberapa kasus, petugas medis mungkin juga akan kesulitan untuk membedakan infeksi virus HDV dengan yang lainnya. 

  1. Mual serta muntah
  2. Bagian putih mata dan kulit berubah warna kekuningan 
  3. Gatal-gatal
  4. Kelihatan bingung serta lelah
  5. Warna urine penderita mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap kecoklatan seperti teh
  6. Nyeri pada persendian dan area perut
  7. Terjadi pendarahan dan memar pada tubuh penderita
  8. Nafsu makan menurun

Gejala penyakit HDV akut baru akan muncul pada seseorang setelah infeksi virus terjadi selama 21 hingga 45 hari. Sementara pada penderita HDV kronis maka gejala biasanya tidak muncul tiba – tiba melainkan bertahap pada jangka waktu lama.

Penyebab 

Penyebab dari penyakit ini sama seperti penyakit hepatitis lainnya yakni serangan virus. Pada penyakit ini maka virus yang menyerang berjenis delta virus atau HDV yang bersifat tidak lengkap sehingga memerlukan virus lain yakni Hepatitis B sebagai inangnya agar bisa berkembang. 

Ada dua cara penularan penyakit HDV yakni infeksi simultan atau bersamaan dengan serangan penyakit Hepatitis B (koinfeksi). Serta infeksi HDV yang timbul belakangan pada individu yang sebelumnya sudah terinfeksi oleh virus Hepatitis B (superinfeksi). HDV sendiri bisa menyebar lewat cairan tubuh penderita maupun kontak langsung dengan penderita Hepatitis D.

Berikut adalah media pengantaran HDV:

  1. Cairan sperma
  2. Darah
  3. Cairan vagina
  4. Persalinan lewat ibu ke bayinya
  5. Saat kehamilan dari ibu ke bayinya
  6. Urine penderita

Faktor Risiko Hepatitis D

Memang benar bahwa penyebab dari penyakit Hepatitis D adalah serangan HDV yang di dalam tubuh juga sudah terdapat virus Hepatitis B. Hanya saja, pada beberapa kondisi, faktor risiko seseorang terkena penyakit ini bisa meningkat apabila mengalami salah satu kondisi di bawah ini:

  1. Menerima Transfusi Darah yang Sudah Terkontaminasi
  2. Telah terinfeksi oleh virus hepatitis B
  3. Berada di area dengan wabah penyakit hepatitis D
  4. Berhubungan seksual dengan sesama jenis. Kasus Hepatitis D paling tinggi terjadi pada pelaku homoseksual
  5. Menggunakan jarum suntik secara bergantian 

Diagnosis Hepatitis D

Diagnosis pertama yang dilakukan dokter adalah menanyakan riwayat kesehatan serta keluhan yang dirasakan pasien. Setelahnya akan dilakukan pengecekan lebih lanjut melalui:

  1. Tes darah

Pengecekan darah bertujuan untuk mencari adanya antibodi anti-hepatitis D pada darah yang menunjukkan pasien terinfeksi virus HDV

  1. Tes Fungsi Hati

Dilakukan pengecekan enzim hati, kadar protein serta bilirubin. 

  1. Tes Pencitraan

Dilakukannya USG, CT Scan, dan MRI

  1. Biopsi Hati

Petugas medis akan mengecek kerusakan pada jaringan hati

Pengobatan Hepatitis D

Penyakit Hepatitis D belum ada obatnya sehingga pengobatan lebih bertujuan untuk menekan pertumbuhan virus. 

  1. Obat antivirus seperti lamivudine, entecavir, dan tenofovir
  2. Obat Interferon 
  3. Transplantasi hati

Pencegahan Hepatitis D

Lakukan beberapa hal berikut untuk mencegah terjadinya penularan hepatitis D.

  1. Hindari konsumsi NAPZA serta berbagi jarum suntik
  2. Vaksinasi hepatitis B
  3. Gunakan sarung tangan ketika harus merawat luka terbuka
  4. Gunakan alat cukur dan sikat gigi masing-masing

Data yang dihimpun oleh WHO menunjukkan bahwa terdapat sekitar 5 persen dari penderita Hepatitis B yang kemudian terjangkit Hepatitis D. Oleh karena itu sangat penting untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit ini.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis