Eklampsia

Jul 7, 2020 | penyakitE | 0 Komentar

Artikel ini telah ditinjau oleh Aileen Velishya

Ditinjau oleh: dr. Irma Lidia

Penyakit komplikasi yang seringkali terjadi pada ibu hamil sehingga penderitanya merasakan kejang-kejang biasa disebut dengan eklampsia. Eklampsia dapat terjadi sebelum, selama, hingga setelah melahirkan. Sayangnya eklampsia juga bisa menyebabkan koma maka dari itu perlu tindakan khusus untuk penanganannya.

Informasi

Perlu diketahui bahwa eklamsia sangat erat kaitannya dengan preeklampsia. Mengapa? Karena eklampsia selalu didahului dengan pre-eklampsia. Sekalipun sangat jarang terjadi, akan tetapi eklamsia sangat berbahaya. Eklampsia ditandai dengan tekanan darah yang tinggi dan kejang. Peredaran darah yang terganggu bisa menyebabkan aktivitas otak terganggu, sehingga penderitanya akan mengalami penurunan kesadaran, gemetar dan kejang.

Gejala

Bagaimana cara mengetahui seseorang terkena penyakit eklampsia? Beberapa gejala di bawah ini biasanya dialami oleh pengidap eklampsia:

  • Menderita hipertensi
  • Rasa nyeri yang hebat pada kepala bagian depan atau belakang
  • Mual dan muntah
  • Tangan, kaki, dan wajah mengalami pembengkakan
  • Mengalami gangguan penglihatan
  • Sering kali mengalami sesak napas
  • Frekuensi buang air kecil rendah, dan jumlah urin berkurang
  • Peningkatan kadar protein pada urin

Perlu diwaspadai juga bahwa sebagian besar pasien pengidap eklamsia yang telah menunjukkan serangkaian gejala di atas, bisa mengalami kram otot. Apabila tidak segera ditangani oleh dokter maka akibatnya bisa menimbulkan kematian atau kelumpuhan saraf otak.

Terdapat dua fase kejang eklamsia, antara lain:

  • Fase Satu

Pada fase satu kejang berupa kedutan pada wajah yang dilanjutkan dengan kontraksi pada otot di seluruh tubuh. Fase ini dapat terjadi 15-20 menit.

  • Fase Dua

Pada fase dua, kejang biasanya dimulai pada rahang, kemudian ke seluruh otot muka, dan seluruh tubuh. Kejang eklamsia akan membuat otot kontraksi dan rileks secara berulang, dan biasanya berlangsung selama 60 detik.

Penyebab

Segala macam penyakit yang bersemayam di dalam tubuh tentu pasti ada penyebabnya, begitu juga dengan eklampsia. Meski demikian masih banyak orang kurang mewaspadainya, berikut ini penyebab terjadinya eklampsia pada ibu hamil:

  • Menderita tekanan darah tinggi yang parah. Biasanya sejak cek kehamilan, dokter kandungan akan memberikan saran berupa mengkonsumsi makanan penurun darah.
  • Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Jarak kehamilan sebelumnya dengan kehamilan saat ini terlalu dekat (kurang dari dua tahun).
  • Mengandung bayi kembar atau mengandung dengan program bayi tabung.
  • Hamil pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
  • Menderita penyakit kronis tertentu seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia, dan autoimun.

Faktor Risiko

Apabila semasa kehamilan seorang wanita mengalami preeklamsia, maka bisa jadi saat melahirkan nanti akan terkena serangan eklampsia. Selain itu ada beberapa faktor risiko lain yang menjadi pemicu terjangkitnya penyakit ini, diantaranya seperti:

Pertama, obesitas atau seorang wanita yang mengalami berat badan berlebih. Kejadian ini seringkali dialami oleh perempuan penggemar minuman atau makanan manis. Kedua, faktor keturunan. Sebagai contoh apabila ayah atau ibu penderita eklampsia pernah mengidap penyakit sama maka keturunannya juga demikian.

Selain faktor risiko di atas eklampsia juga bisa timbul karena penderita sedang mengalami penyakit kencing manis. Bisa juga kondisi lain yang dapat mempengaruhi pembuluh darah, serta waspadai juga apabila wanita tersebut terkena gagal ginjal.

Diagnosis

Sebelum benar-benar merasa terancam sebaiknya wanita hamil yang mengalami gejala atau faktor risiko di atas, ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Hal ini untuk mengetahui hasil diagnosa, berikut ini tes yang biasa dilakukan untuk mengetahui hasilnya:

  • Pemeriksaan protein pada urin guna mengetahui kadarnya, apabila terdeteksi tinggi maka kemungkinan besar pasien mengidap eklampsia
  • Pemeriksaan volume urin. Jika ibu hamil mengeluarkan urin yang sangat sedikit, yakni sekitar kurang dari 400 mm dalam waktu 1×24 jam maka dimungkinkan mengalami eklampsia
  • Tes darah lengkap
  • Pemeriksaan fungsi ginjal yang terganggu atau bisa disebut dengan tes serum kreatinin
  • Tes fungsi ginjal
  • Ultrasonografi (USG)

Pengobatan

Biasanya setelah dokter mengeluarkan diagnosisnya, maka pasien dianjurkan untuk rawat inap agar terpantau kondisi tubuhnya.

Obat yang paling sering diberikan oleh penderita eklamsia diantaranya seperti pengontrol tekanan darah dan suplemen vitamin. Sebagai langkah awal, dokter juga akan menyarankan agar ibu hamil menjalani bedrest (istirahat total) baik di rumah atau Rumah Sakit.

Selain itu dokter juga biasanya akan memberikan obat penurun tekanan darah untuk mencegah kemungkinan terburuk.

Pencegahan

Sekalipun secara umum masih belum ada ketetapan dalam mencegah eklampsia maupun preeklampsia, akan tetapi dokter atau bidan selalu memberikan solusi. Lantas apa saja itu? berikut ini pencegahan alternatifnya:

  • Memeriksakan diri ke dokter secara berkala demi mengetahui perkembangan janin 
  • Selalu menerapkan gaya hidup yang sehat
  • Menjaga tekanan darah normal selama masa kehamilan
  • Konsumsi suplemen vitamin

Mengenali gejala, penyebab dan faktor risiko terjadinya eklampsia sangat perlu diketahui dan diperhatikan bagi ibu hamil. Apalagi penyakit ini bisa mengancam nyawa calon bayi dan penderitanya. Segera hubungi dokter sebelum keadaan semakin memburuk.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis