fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh

Ditinjau oleh: dr. Irma Lidia

Bagi para kaum hawa, masalah pada area kewanitaan tentu menjadi salah satu masalah yang tidak dapat disepelekan. Vagina sendiri memang menjadi area intim yang memiliki kemungkinan tinggi untuk terinfeksi oleh bakteri dan juga jamur. Salah satu permasalahan yang sering timbul pada area kewanitaan adalah Vaginosis bakterialis. 

Informasi

Gangguan Vaginosis bakterialis pada area vagina ini timbul akibat adanya ketidakseimbangan populasi flora di dalam area intim. Di dalam vagina sendiri terdapat populasi bakteri baik serta bakteri jahat yang terus berkembang. Umumnya populasi bakteri baik harus lebih banyak ketimbang bakteri jahat karena bakteri baik bermanfaat untuk mencegah terjadinya infeksi pada tubuh oleh bakteri jahat. 

Namun ketika wanita terserang Vaginosis bakterialis, maka populasi bakteri baiknya lebih sedikit ketimbang bakteri jahat. Akibatnya bakteri baik tidak dapat melawan infeksi yang disebabkan bakteri jahat. Meski Vaginosis bakterialis sebenarnya adalah infeksi bakteri ringan, tapi apabila tidak segera ditangani dengan tepat bisa menimbulkan penyakit infeksi menular seksual.

Selain itu, wanita hamil yang mengalami Vaginosis bakterialis bisa berisiko tinggi menyebabkan komplikasi pada kehamilan. 

Gejala

Pada beberapa kasus, penderita Vaginosis bakterialis mungkin tidak merasakan adanya gejala sama sekali yang menyertai. Hanya saja beberapa tanda berikut adalah yang umum dirasakan penderita:

Timbulnya Keputihan

Keputihan sendiri sebenarnya merupakan hal normal yang terjadi pada wanita karena berkaitan dengan tanda siklus bulanan. Hanya saja pada penderita Vaginosis bakterialis, maka tekstur keputihannya yakni encer dengan warna putih sampai sedikit abu-abu atau keruh. Selain itu, keputihan yang dikeluarkan memiliki bau yang amis. Bau amis terutama paling tercium ketika sedang haid maupun saat berhubungan seksual.

Vagina Gatal

Penderita terkadang merasakan rasa gatal berlebihan pada area intim kewanitaan. Rasa gatal ini bisa menimbulkan sedikit nyeri dan juga perih terutama saat sedang buang air kecil. 

Penyebab

Penyebab timbulnya Vaginosis bakterialis tentu saja karena penurunan jumlah bakteri baik yakni Lactobacillus. Jumlah bakteri baik Lactobacillus normal adalah berkisar 95%. Ketika jumlah bakteri baik menurun, maka pertumbuhan bakteri anaerob alias bakteri jahat menjadi tidak terkendali. Meski begitu, penyebab terjadinya ketidakseimbangan jumlah bakteri baik dalam vagina sendiri belum ditentukan secara pasti.

Faktor Risiko

Meski penyebab pasti dari ketidakseimbangan pertumbuhan bakteri baik dalam vagina belum diketahui secara pasti, hanya saja beberapa faktor berikut bisa meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit. Berikut daftarnya:

  • Kebiasaan merokok. Wanita yang menjadi perokok aktif maupun pasif sama-sama berisiko mengalami gangguan Vaginosis bakterialis karena dalam asap rokok terdapat ratusan zat beracun yang berbahaya bagi tubuh. Diduga zat beracun tersebut menyebabkan bakteri baik sulit berkembang atau memicu jumlah bakteri jahat semakin banyak.
  • Aktivitas seksual tidak sehat
  • Wanita yang sering bergonta-ganti pasangan seksual berisiko tinggi mengalami Vaginosis bakterialis. Terutama ketika pasangan seksual telah terinfeksi oleh bakteri Gardnerella vaginalis maka meningkatkan risikonya. Selain itu aktivitas seksual aktif tanpa menggunakan kondom juga meningkatkan risiko.
  • Infeksi parasit
  • Parasit Trichomonas yang menginfeksi tubuh wanita akan meningkatkan risiko Vaginosis bakterialis
  • Menggunakan pakaian dalam yang diberi pewangi
  • Menggunakan beberapa jenis alat kontrasepsi
  • Alat kontrasepsi seperti AKDR yang dipasang dalam rahim serta IUD meningkatkan risiko timbulnya Vaginosis bakterialis

Diagnosis

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan menanyakan gaya hidup, riwayat kesehatan serta gejala pada pasien. Sementara untuk pemeriksaan lanjutan akan dilakukan tiga hal berikut:

Pemeriksaan keasaman organ intim

Tingkat keasaman vagina normal wanita yakni 3,8 hingga 4,5. Untuk itu dokter akan mengecek tingkat keasaman dengan meletakkan kertas pH di vagina. Penderita Vaginosis bakterialis memiliki tingkat keasaman vagina lebih dari 4,5. 

Memeriksa Organ Intim

Bagian dalam vagina biasanya akan dicek juga oleh dokter dengan menggunakan alat spekulum agar liang vagina melebar.

Memeriksa sampel sekresi organ intim

Dengan menerapkan prosedur swab atau usap, dokter akan mengambil sampel cairan keputihan di vagina. Sampel ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa keberadaan bakteri anaerob.  

Pengobatan

Untuk mengobati penyakit ini, akan diresepkan obat antibiotik baik tablet minum maupun tablet yang dimasukkan ke organ intim. Tujuan pemberian antibiotik agar bakteri jahat di dalam organ mati. Antibiotik yang biasa digunakan adalah clindamycin serta metronidazole. Obat baru akan diberikan apabila gejala terus muncul. 

Pencegahan

Untuk mencegah timbulnya Vaginosis bakterialis, maka pastikan Anda jangan menyemprot ke arah dalam vagina langsung dengan semprotan air. Selain itu jangan sering menggunakan vaginal douche (alat pembersih vagina semprot) untuk membersihkan area kewanitaan. Pasalnya hal itu akan menyebabkan bakteri baik hilang. Selain itu gunakan pula celana dalam yang berbahan katun. Cuci celana dalam menggunakan sabun cuci yang ramah agar tidak meninggalkan sisa bahan kimia berbahaya. 

Gangguan Vaginosis bakterialis lebih banyak diderita oleh wanita yang memasuki usia reproduksi karena pada masa reproduksi aktif kondisi vagina berbeda dengan kondisi wanita yang tidak dalam masa reproduksi. Umumnya usia penderita Vaginosis bakterialis adalah 15 hingga 44 tahun.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis