fbpx

Stroke Hemoragik: Gejala, Penyebab, Diagnosa, dan Pengobatan

Sep 11, 2020 | Hidup Sehat | 0 Komentar

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Denny Archiando

Stroke hemoragik adalah sebuah kondisi dimana salah satu arteri yang ada pada bagian otak pecah. Hal ini dapat menyebabkan pendarahan yang terjadi di area sekitar organ alhasil, aliran darah pada otak pun menjadi lebih sedikit bahkan dapat terputus. Tanpa adanya aliran darah yang baik, maka pasokan oksigen pun menjadi terbatas. Hal ini dapat menyebabkan sel otak menjadi lebih cepat mati dan fungsi otak pun dapat terganggu.

Pendarahan yang terjadi akibat pembuluh darah yang pecah disebut dengan perdarahan intraserebral. Jika pendarahan pembuluh darah berada di ruang yang letaknya antara lapisan pembungkus otak pada bagian tengan serta bagian dalam, maka disebut sebagai perdarahan subarachnoid.

Gejala

Penyakit stroke memiliki beberapa gejala yang dapat ditimbulkan. Namun, gejala tersebut bisa saja berbeda pada setiap orang. Hal ini dapat disebabkan dari besarnya jaringan yang mengalami gangguan, tingkat keparahan maupun lokasi dai pendarahan itu sendiri. Beberapa gejala yang dapat timbul adalah sakit kepala, mual serta muntah, kesadaran menurun dan mengalami kejang.

Gejala yang umum dapat dialami adalah tubuh menjadi lemah, gangguan bicara, kelumpuhan yang terjadi pada satu sisi tubuh saja, serta mata tidak bisa untuk digerakan menuju arah tertentu, tampak bingung serta adanya gangguan penglihatan.

Untuk kondisi stroke hemoragik subarachnoid memiliki gejala awal berupa sakit kepala serta penglihatan ganda. Gejala tersebut umumnya muncul sebelum terjadi pecah pembuluh darah, setelah pembuluh darah pecah, gejala yang muncul biasanya berupa, nyeri yang terasa pada bagian mata atau pada area wajah, penglihatan menjadi kabur, leher yang kaku, serta kesadaran yang menurun.

Penyebab Stroke Hemoragik

Penyebab penyakit stroke bisa saja dipicu karena adanya beberapa faktor seperti mengalami cedera berat, tekanan darah yang tinggi, aneurisma otak. Selain itu, bisa juga disebabkan karena pembuluh darah di otak yang duad tidak normal sejak lahir, penyakit liver, kelainan darah, tumor otak. Efek samping dari penggunaan obat antikoagulan seperti warfarin juga dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah tersebut.

Diagnosis Stroke Hemoragik

Seseorang dapat didiagnosis mengalami kondisi ini biasanya karena gejala khas serta telah dilakukannya pemeriksaan secara mendetail. Pemeriksaan tersebut dapat berupa MRI atau CT scan yang berguna untuk memeriksa kerusakan jaringan di otak, angiografi otak pun memiliki tujuan untuk mengetahui perkembangan dari pendarahan yang disebabkan oleh kondisi ini.

Pemeriksaan cairan serebrospinal pun bisa saja dilakukan jika memang CT scan atau MRI belum memadai.

Pengobatan Stroke Hemoragik

Pengobatan kondisi ini dilakukan berdasarkan tingkat keparahan, penyebab, serta lokasi pendarahan yang terjadi. Pasien dengan kondisi ini nantinya akan dirawat di unit rawat intensif supaya kondisinya akan terus dipantau dengan seksama.

Penanganan yang diberikan bertujuan guna mengendalikan perdarahan serta untuk mencegah timbulnya komplikasi secepat mungkin.

Penanganan tersebut nantinya dapat berupa pemberian obat stroke. Jika pasien menggunakan obat pengencer darah, nantinya penggunaan obat tersebut akan dihentikan untuk sementara waktu karena dapat memperparah kondisi pendarahan yang terjadi. Jika diperlukan, dokter juga akan memberikan obat yang berguna untuk membekukan darah seperti pemberian vitamin K, atau melakukan transfusi trombosit.

Obat stroke lain yang diberikan dapat berupa obat pereda nyeri untuk meringankan sakit kepala yang dialami pasien. Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid pun tidak dianjurkan untuk diberikan kepada pasien yang mengalami kondisi ini karena dapat membuat pendarahan semakin memburuk. Obat pencahar bisa saja digunakan dengan tujuan menangani pasien untuk mengejan terlalu keras ketika BAB yang dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah yang terletak di rangka kepala.

Untuk mencegah semakin parahnya kondisi yang dialami pasien, dokter juga dapat memberikan obat antagonis. Pemberian obat tersebut berguna untuk menjaga stabilitas tekanan darah terus rendah supaya pendarahan bisa dicegah. Jika nantinya pasien mengalami kejang, maka dokter akan memberikan obat antikonvulsan,

Pasien juga dapat dipasang selang pada bagian otak dengan tujuan untuk mengeluarkan cairan serebral yang ada. Tindakan tersebut memiliki tujuan guna mengurangi adanya tekanan pada bagian otak, sekaligus untuk mencegah hidrosefalus.

Untuk kasus yang sangat parah, akan dibutuhkan penanganan lebih seperti operasi yang bertujuan untuk memperbaiki pembuluh darah serta untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Namun, operasi yang dilakukan butuh pertimbangan yang matang karena memiliki risiko membuat kerusakan otak yang lebih lanjut.

Setelah pasien menjalankan pengobatan, maka pasien akan melalui proses pemiulihan. Pemulihan pasien juga bisa dipengaruhi dari keparahan kerusakan jaringan otak serta tingkat keparahan stroke. Bila penderita tidak memiliki komplikasi apapun, maka waktu pemulihan yang umum dibutuhkan adalah sekitar beberapa minggu hingga akhirnya diperbolehkan pulang. Namun, jika pasien mengalami kerusakan jaringan, maka akan diberikan terapi seperti terapi fisik, dan terapi lain yang dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk membantu mengembalikan fungsi jaringan yang mengalami kerusakan.

 Kesulitan tebus obat selama pandemi? Temukan solusi tebus resep obat mudah dengan mengunduh aplikasi Lifepack yang tersedia di Google Play Store dan App Store.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis