fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Denny Archiando

Mastocytosis atau mastositosis merupakan penumpukan salah satu jenis sel darah putih yaitu sel mast pada bagian organ atau jaringan tubuh tertentu. Apabila penumpukan sel mast terjadi di permukaan kulit, maka gejala yang ditunjukkan berupa bercak-bercak merah gelap dan terasa gatal. Sedangkan jika penumpukan sel mast terjadi di bagian organ tubuh lain, seperti hati, limpa, sumsum tulang, dan usus halus, maka gejala yang ditimbulkan juga berbeda-beda.

Informasi

Mastocytosis atau mastositosis memiliki tingkat keparahan yang berbeda, meski jarang terjadi. Mulai dari sekedar timbul bercak dikulit, fungsi organ terganggu, hingga menimbulkan kanker jaringan ikat atau kanker darah. Sebagai salah satu jenis sel darah putih, sel mast juga termasuk bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia. Fungsi sel mast dalam sistem imun yaitu bereaksi ketika ada benda asing yang masuk ke dalam tubuh atau membantu tubuh melawan infeksi. Inilah yang menjadikan penderita mastocytosis lebih rentan mengalami reaksi alergi. Jadi, ketika ada benda asing masuk ke dalam tubuh, sel mast akan memproduksi histamin dan menimbulkan gejala alergi sebagai bentuk pertahanan diri.

Ada dua jenis mastocytosis yaitu sebagai berikut.

  • Mastocytosis kutan, apabila penumpukan sel mast terjadi di kulit saja, umumnya dialami oleh anak-anak.
  • Mastocytosis sistemik, apabila penumpukan sel mast terjadi pada lebih dari satu bagian tubuh, seperti tulang, kulit, dan organ dalam lainnya. Umumnya, mastocytosis sistemik terjadi pada orang-orang dewasa.

Gejala

Gejala mastocytosis berbeda-beda tergantung tempat penumpukannya atau jenisnya. Pada mastocytosis kutan, gejala yang ditunjukkan yaitu:

  • Ruam merah dan terasa gatal
  • Bentol-bentol atau bintik-bintik merah
  • Benjolan kulit pada kulit
  • Jika digaruk, ruam akan semakin memerah dan bengkak

Sedangkan, gejala mastocytosis sistemik meliputi:

  • Hidung tersumbat
  • Rasa lelah
  • Sakit kepala
  • Diare, kembung, nyeri perut
  • Mual atau muntah
  • Sensasi seperti hendak pingsan atau kehilangan kesadaran
  • Tekanan darah rendah
  • Jantung berdebar-debar
  • Anemia dan kelainan darah lainnya
  • Pembesaran organ hati, limpa, dan kelenjar getah bening
  • Osteoporosis
  • Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian

Penyebab

Belum diketahui secara pasti penyebab dari mastocytosis. Namun, mutasi atau perubahan gen yang mengatur pembentukan sel mast diduga berpengaruh terhadap penyakit ini. Pada beberapa kasus, mutasi gen diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Sementara, ada kasus lain dimana mutasi terjadi dengan sendirinya tanpa faktor pemicu yang jelas. Bertambahnya usia diduga menjadi faktor pemicu mutasi terjadi.

Faktor Risiko

Seseorang berisiko mengalami mastocytosis apabila memiliki riwayat keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dan sering terpapar oleh zat-zat yang menimbulkan mutasi gen. Faktor risiko lainnya belum dapat diketahui karena penyebab mastocytosis yang belum jelas. Apabila merasakan gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter. Hindari pula aktivitas yang menyebabkan gejala makin parah.

Beberapa kondisi yang memperparah rasa gatal pada mastocytosis kutan yaitu:

  • Perubahan suhu lingkungan
  • Bahan pakaian tertentu
  • Obat-obatan tertentu, seperti OAINS
  • Konsumsi minuman panas, makanan pedas, atau alkohol
  • Olahraga 

Sedangkan, gejala mastocytosis sistemik dipicu oleh:

  • Konsumsi alkohol dan makanan pedas
  • Perubahan suhu lingkungan
  • Gigitan serangga
  • Stress atau cemas
  • Pembedahan
  • Vaksin
  • Obat-obatan, seperti OAINS

Diagnosis

Diagnosis mastocytosis dapat dilakukan melalui tanya jawab gejala yang dialami pasien, riwayat medis pasien, dan keluarga. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik diikuti serangkaian pemeriksaan penunjang berikut ini.

  • Biopsi kulit, pengambilan sampel jaringan kulit pasien untuk diperiksa keberadaan sel mast.
  • Tes darah dan urin, untuk diperiksa kadar sel mast dalam darah dan urin pasien.
  • USG perut, untuk mengecek ada tidaknya pembesaran hati dan limpa.
  • DEXA scan, untuk memeriksa kepadatan tulang.
  • Pemeriksaan sumsum tulang, dengan pengambilan sampel untuk diperiksa kadar sel mast dalam sumsum tulang pasien.
  • Tes genetik untuk melihat adanya kelainan genetik.

Pengobatan

Belum ditemukan pengobatan yang spesifik untuk menangani mastocytosis. Penanganan saat ini hanya bertujuan untuk meredakan gejala yang timbul supaya tidak bertambah parah. Berikut ini adalah beberapa penanganan mastocytosis tergantung dari jenis dan tingkat keparahannya.

Mastocytosis Kutan

Untuk mastocytosis tingkat ringan hingga sedang, pasien akan mendapatkan resep krim kortikosteroid  untuk mengurangi jumlah sel mast atau obat antihistamin untuk menghambat kerja histamin. Kedua obat ini berguna untuk meredakan gejala mastocytosis.

Mastocytosis Sistemik

Sementara, gejala mastositosis sistemik dapat diatasi dengan obat antihistamin, aspirin, atau cromolyn. Apabila penyakit ini sudah parah, penderita akan dianjurkan mengonsumsi obat-obatan seperti interferon alfa, kortikosteroid, atau sitotoksik.

Pencegahan

Belum diketahui bagaimana upaya pencegahan penyakit mastositosis karena faktor penyebab yang belum pasti. Namun, jika Anda merasakan gejala-gejala seperti yang telah disebutkan diatas, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan. Meski jarang terjadi, penderita mastocytosis berisiko mengalami alergi berat yang disebut antifilaksis. Tidak hanya itu, mastocytosis juga menimbulkan komplikasi dan bersifat agresif bila terjadi di organ selain kulit.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis