Dermatitis Numularis

by | Jun 24, 2020 | direktoriPenyakit, penyakitD | 0 comments

Ditinjau oleh: dr. Denny Archiando

Ketika seseorang mengalami kerusakan di bagian permukaan kulit. Misalnya saja seperti gesekan luka bakar maupun gigitan serangga bisa membuat seseorang mengalami penyakit dermatitis numularis. Untuk gangguan tersebut berlangsung dalam durasi mingguan, bulanan, bahkan hingga tahunan. 

Biasanya kondisi ini lebih sering muncul pada bagian area tungkai. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dermatitis numularis bisa terjadi pada area tubuh yang lainnya. Kebanyakan penderita dermatitis ini dialami oleh pria yang berusia 55 hingga 65 tahun. Namun untuk wanita pun juga mempunyai risiko yang sama.

Informasi

Penyakit dermatitis numularis merupakan peradangan yang terjadi pada kulit dengan bentuk oval atau berbentuk koin. Biasanya kondisi seperti ini ditandai munculnya ruam pada kulit yang terasa sangat gatal. Selain itu kondisi ini juga disertai dengan kerak luka pada kulit, lepuhan-lepuhan kecil, bahkan sampai kulit bersisik.

Dermatitis numularis juga seringkali disebut sebagai eksim numular maupun eksim diskoid. Secara umum penyakit ini memang menyerang pada usia 55 hingga 65 tahun. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan bagi pria maupun wanita muda mengalami penyakit yang satu ini. Untuk itu Anda harus mengenali gejala penyakit ini sedini mungkin.

Gejala

  • Di dalam bercak kulit terdapat bintik-bintik warna merah yang melepuh dan berisi cairan
  • Lesi kulit membesar sehingga membentuk oval ataupun koin
  • Lesi mempunyai ukuran diameter 2 hingga 10 cm
  • Terdapat bercak yang berwarna merah dan menjadi kekuningan
  • Bercak tersebut mengeluarkan cairan
  • Kulit yang ada di sekeliling bercak mengalami bengkak, nyeri, panas atau radang.
  • Tubuh merasa meriang

Penyebab

Penyebab dari penderita penyakit ini sebagian besar dinilai karena penderitanya mempunyai kondisi kulit xerosis atau kulit yang sangat kering. Selain itu kondisi kulit yang sensitif terhadap beberapa jenis zat tertentu pun bisa saja terjadi, misalnya seperti berikut:

  • Logam nikel dan merkuri
  • Formalin yang terdapat pada produk rumah tangga maupun pembuatan bahan bangunan
  • Mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti neomycin, isotretinoin, interferon, obat kolesterol jenis statin dan Formaldehid

Faktor Risiko

Ada beberapa faktor risiko yang bisa Anda ketahui dari penderita dermatitis numularis, seperti berikut:

  • Pria yang sudah berusia diatas 50 tahun;
  • Mempunyai kulit sensitif seperti mengalami iritasi yang disebabkan karena penggunaan produk pembersih pakaian yang bertekstur kasar maupun penggunaan kosmetik;
  • Mempunyai keluarga dengan riwayat asma, alergi, maupun dermatitis atopik;
  • Mempunyai kondisi yang menimbulkan peredaran darah mengalami terhambat, khususnya pada bagian tungkai. Hal ini dapat terjadi seperti diabetes dan varises; dan
  • Mengalami cedera ringan di bagian kulit seperti terbakar, tergigit serangga, maupun tergores benda tajam.

Diagnosis

Melalui pemeriksaan, maka dokter dapat menentukan diagnosis maupun melakukan penanganan. Pada biasanya gejala ini memang hampir sama seperti penyakit lain. Misalnya seperti dermatitis kontak, kurap dan psoriasis. Oleh karena itu dokter akan melakukan pemeriksaan yang berbeda. Untuk mendiagnosis penyakit tersebut, ada beberapa tindakan yang akan dilakukan, diantaranya:

  • Dokter menanyakan gejala dan keluhan yang dialami oleh pasien. 
  • Dokter akan menelusuri mengenai riwayat penyakit yang pernah dialami oleh pasien maupun keluarganya. 
  • Dokter melakukan pemeriksaan secara fisik dengan cara mengamati area kulit bagi penderita yang sedang mengalami dermatitis numularis.
  • Dokter akan menyarankan pasien supaya melakukan tes alergi untuk benar-benar memastikan apakah kulit mengalami alergi terhadap sesuatu yang bisa memicu penyakit dermatitis numularis.

Pengobatan

Ada beberapa obat yang bisa digunakan untuk mengobati penderita dermatitis numularis, diantaranya seperti berikut:

Kortikosteroid

Jenis obat ini berbentuk krim maupun salep yang dapat mengurangi adanya peradangan bagi penderita dermatitis numularis.

Fototerapi

Fototerapi dilakukan dengan bantuan menggunakan sinar UVB. Jenis pengobatan ini sangat cocok bagi penderita yang lama tidak dapat disembuhkan menggunakan pengobatan salep atau topikal. Fototerapi penderita yang berada pada kasus berat dapat menggunakan sinar UVA melalui psoralen.

Cetirizine

Jenis obat ini digunakan bagi para penderita supaya dapat meredakan respon alergi maupun adanya gejala gatal.

Antibiotik salep

Penggunaan antibiotik salep sangat tepat bagi penderita yang sudah mengalami infeksi sekunder karena bakteri jenis salep antibiotik yang digunakan tidak disarankan apabila mempunyai kandungan berupa neomycin. Hal ini menjadi pencetus penyakit dermatitis numularis. 

Pencegahan

Ada beberapa pencegahan yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Menjaga kulit agar tetap terhidrasi dengan cara menggunakan pelembab setelah mandi.
  • Menggunakan produk pembersih atau produk kosmetik yang berbahan lembut supaya tidak berpotensi mengiritasi kulit yang kering.
  • Menghindari berendam dengan air hangat terlalu lama.
  • Menggunakan pakaian yang longgar dan mengenakan bahan yang dapat menyerap keringat.
  • Melakukan manajemen stres.

Biasanya jenis penyakit ini akan dapat terlihat melalui gejala yang ditimbulkan. Gejala tersebut biasanya terjadi di permukaan kulit yang memiliki tekstur kasar, berwarna kemerahan, maupun kecoklatan. Di bagian tengah terdapat bercak yang terlihat lebih bersih seperti kurap. Akan tetapi sebelum mengalami bercak, dermatitis numularis seringkali terlebih dahulu memunculkan bintik-bintik kemerahan di bagian kulit.