fbpx

Alat Kontrasepsi IUD

Agu 10, 2020 | direktoriObat, Informasi Kesehatan Obat dari Huruf K | 0 Komentar

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Irma Lidia

Ada banyak pilihan alat kontrasepsi yang dapat digunakan Anda dan pasangan untuk menunda kehamilan. Salah satu yang familiar adalah alat kontrasepsi IUD. 

Informasi 

IUD (Intrauterine Device) berupa alat berbahan plastik berbentuk seperti huruf T dan dipasang dalam rahim untuk mencegah kehamilan terjadi.

  • IUD yang dilapisi tembaga atau IUD non-hormonal
  • IUD yang menghasilkan hormon progesteron atau IUD hormonal

Meskipun sama-sama IUD, namun kedua jenis alat KB tersebut memiliki cara yang berbeda untuk mencegah kehamilan.

Dosis

Cara kerja alat kontrasepsi IUD ini tergantung dari jenisnya. 

Cara kerja IUD Non-Hormonal

IUD yang dilapisi tembaga atau IUD non-hormonal ini bekerja dengan cara menghalangi sel sperma untuk masuk ke tuba falopi atau saluran antara rahim dengan indung telur, sehingga pembuahan sel telur tidak akan terjadi. Alat KB ini juga membuat sel telur lebih sulit dibuahi dalam rahim oleh sel sperma. IUD jenis ini, seperti ParaGard dapat bertahan hingga 10 tahun.

Cara Kerja IUD Hormonal

Sedangkan IUD hormonal memiliki hormon progesteron sintetis yang menyebabkan lendir serviks mengental, sehingga sperma akan kesulitan berenang didalam rahim dan tidak terjadi pembuahan. IUD jenis ini, seperti Mirena perlu diganti setiap 5 tahun sekali.

Secara umum, alat KB IUD berperan dalam menipiskan dinding rahim yang seharusnya menebal saat terjadi pembuahan. Hal ini tentu menghentikan ovulasi dan mencegah sel sperma membuahi sel telur. KB spiral juga mengurangi aliran darah dengan menstruasi yang sering menyebabkan rasa sakit atau disebut dengan dismenore. Pemasangan IUD ini sendiri selama akhir periode haid atau 1-2 hari pasca haid.

Kontraindikasi

Berikut ini adalah kontraindikasi pemasangan IUD berdasarkan pedoman klinis yang dikeluarkan oleh CDC tahun 2016.

  • Kehamilan
  • Infeksi, seperti post partum sepsis, post septik abortus, radang panggul yang aktif, mengalami infeksi menular seksual, tuberkulosis pelvis
  • Penyakit neoplastik, seperti kanker serviks, trofoblastik dengan tingkat hormon beta HCG yang tinggi terus menerus, kanker endometrium
  • Perdarahan vagina diluar siklus haid yang berat
  • Bentuk rahim tidak normal
  • Penggunaan IUD non-hormonal atau IUD yang dilapisi tembaga dikontraindikasi bagi wanita yang alergi terhadap tembaga atau memiliki riwayat penyakit Wilson.

Kontraindikasi lain juga berlaku bagi wanita dengan kehamilan ektopik, distorsi uterus, koagulopati, anemia berat, dan pengobatan dengan antikoagulan.

Interaksi dengan Obat Lain

Alat kontrasepsi  IUD diduga berinteraksi dengan obat antiretroviral walaupun masih belum jelas. Namun, WHO merekomendasikan untuk tidak memilih metode kontrasepsi ini apabila masih ada pilihan lain, terutama pada kasus HIV lanjut atau berat.

Kelompok Orang Berisiko

Efek penggunaan KB IUD ini yaitu efek spermatisidal dan ovisidal, menghancurkan ovum yang telah dibuahi, dan disrupsi dinding uterus sehingga mencegah implan pada uterus. Pemasangan IUD dilakukan oleh tenaga medis. Namun, ada kelompok orang berisiko menggunakan alat KB IUD, diantaranya:

Wanita Hamil

Wanita yang sedang hamil tidak disarankan untuk melakukan pemasangan IUD. Namun, jika kehamilan terjadi akibat kegagalan IUD, maka alat kontrasepsi ini harus segera dilepas. Meski demikian, hanya 1 dari 100 pasangan yang mengalami kehamilan saat menggunakan KB ini.

Wanita dengan Kelainan Bentuk Uterus

Wanita Yang mengalami perdarahan vagina yang belum jelas penyebabnya,

Infeksi Radang Panggul

Wanita yang mengalami infeksi radang panggul perlu berkonsultasi untuk pemilihan alat kontrasepsi yang akan digunakan.

Efek Samping

Bagi wanita yang memilih menggunakan IUD sebagai alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan, tidak perlu mengingat jadwal minum pil KB secara teratur, gonta ganti alat, atau mengisi ulang resep setiap saat. Sebab, KB spiral dapat bertahan dalam waktu lama dan efektif mencegah kehamilan. Jika berubah pikiran, Anda juga dapat melepas alat ini kapan saja tanpa berpengaruh terhadap kesuburan. Meski demikian, KB IUD memiliki kekurangan berupa efek samping penggunaan, seperti berikut ini.

  • Siklus menstruasi tidak teratur pada beberapa bulan pertama sejak menggunakan KB IUD.
  • Saat menstruasi, darah yang keluar lebih banyak dari biasanya.
  • Saat menggunakan KB IUD non-hormonal, Anda akan merasa kram perut yang hebat saat mengalami menstruasi.
  • Apabila menggunakan IUD progesteron, periode menstruasi lebih ringan dan cepat, bahkan Anda tidak akan mengalami menstruasi sama sekali.
  • Apabila menggunakan IUD hormonal, Anda akan merasa gejala mirip PMS, seperti sakit kepala, jerawat, mual, dan nyeri bagian payudara.

KB IUD juga dapat menimbulkan efek samping lainnya. Namun efek samping ini sangat jarang terjadi, seperti:

  • IUD lepas sendiri
  • Perforasi rahim
  • Penyakit infeksi radang panggul

Cara Penggunaan

Boleh atau tidaknya seseorang memasang alat KB IUD tergantung kondisinya. Dokter akan memastikan Anda tidak memiliki penyakit menular seksual, baru boleh dipasangkan. Pemasangannya pun harus dilakukan oleh dokter atau ahli medis profesional. Paling mudah dilakukan saat periode menstruasi dan kapanpun asal tidak sedang hamil. Perhatikan pula kapan waktu pelepasan IUD, baik IUD hormonal maupun non-hormonal. Sebelum menggunakan IUD, sebaiknya konsultasikan dulu pada dokter terkait KB yang baik untuk Anda.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis