fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Denny Archiando

Pada kondisi orang yang sedang mengalami penyakit paru-paru, biasanya membutuhkan obat pengencer dahak maupun lendir yang tersangkut di saluran pernapasan. Apakah Anda sudah mengetahui acetylcysteine obat apa? Obat pengencer dahak yang biasa dikonsumsi adalah Acetylcysteine. Obat Acetylcysteine dapat membantu mengencerkan lendir serta dahak sehingga pernapasan kembali normal. Selain untuk mengencerkan dahak, obat Acetylcysteine juga berfungsi untuk menurunkan risiko kerusakan hati karena overdosis acetaminophen. 

Informasi

Obat Acetylcysteine merupakan obat kelompok mukolitik yang bekerja sebagai pengencer dahak yang tersangkut di saluran pernapasan. Penyakit paru yang bisa menyebabkan pengentalan dahak di saluran udara adalah cystic fibrosis, tuberkulosis, bronkitis, dan juga pneumonia. Selain itu, obat Acetylcysteine juga berfungsi untuk mengatasi masalah keracunan parasetamol pada beberapa pasien.

Obat ini bisa dikonsumsi dengan cara dihirup melalui paru-paru ataupun diminum melalui mulut. Obat ini mungkin berbau cukup kuat sehingga membuat pasien merasa mual.

Dosis

Dosis yang tepat tentu harus mengikuti saran dari dokter. Untuk anak-anak harus berdasarkan resep dokter yang akan berbeda-beda tergantung dari berat badan si kecil. Berikut hanya gambaran dari dosis yang biasa diberikan:

Dosis Oral

Konsumsi dosis oral yakni sebanyak 600 mg dalam sehari untuk satu kali konsumsi. Namun pemberian juga dapat dibagi menjadi tiga kali pemberian dalam sehari untuk mukolitik atau pengencer dahak. Sementara untuk kasus keracunan parasetamol, maka pemberian dosis muatan yaitu 140 mg setiap kilo berat badan. Sementara untuk dosis pemeliharaan maka secara oral diberikan 70 mg per kilogram berat badan. 

Dosis Nebulizer

Pada kebanyakan pasien, dosis yang diberikan adalah 3 hingga 5 ml larutan dengan sediaan 20% untuk pengencer dahak atau mukolitik. Apabila sediaan 10% maka dosis yang diberikan adalah 6 sampai 10 ml. Pemberian obat sebanyak 3 sampai 4 kali dalam satu hari. Batas dosis yang diberikan yakni 1 sampai 10 ml larutan dengan sediaan 20%. Sementara untuk sediaan 10% maka dosis yang diberikan berkisah 2 sampai 20 ml. 

Kontraindikasi 

Interaksi dengan Obat Lain

Konsumsi obat Acetylcysteine bersamaan dengan obat lainnya dapat meningkatkan kemungkinan efek samping ataupun mengurangi keefektifan obat. Obat yang dapat berinteraksi oleh Acetylcysteine tidak terbatas pada obat-obatan medis namun bisa juga produk herbal dan obat non resep. Untuk itu sebaiknya Anda selalu mengkomunikasikan dengan dokter perihal produk yang tengah Anda konsumsi. 

Obat yang bisa berefek terhadap obat Acetylcysteine adalah seperti berikut:

  • Ifosfamide, 
  • Arang aktif atau charcoal
  • Insulin hirup

Selain obat-obatan di atas, ada pula beberapa jenis minuman serta makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi ketika menggunakan obat Acetylcysteine. Sebaiknya hindari merokok serta konsumsi alkohol karena dapat meningkatkan risiko penggunaan obat. Selain itu, sebaiknya tidak mengkonsumsi jeruk bali merah ataupun jus jeruk bali merah. Beritahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan lain, vitamin atau suplemen untuk menghindari interaksi dengan obat lain. 

Kelompok Orang Berisiko

Kelompok pasien yang memiliki riwayat asma bronkial memiliki risiko besar untuk mengalami masalah bronkospasme. Oleh karena itu pasien dengan riwayat asma bronkial harus selalu diawasi ketika mengkonsumsi obat Acetylcysteine. Selain itu, obat Acetylcysteine berbentuk aerosol bisa menambah buruk kondisi batuk pasien dengan asma bronkial yang akut. 

Sementara untuk penggunaan pada orang hamil belum terdapat penelitian klinis mencukupi terkait efek obat ini. Menurut badan obat di Amerika Serikat, Acetylcysteine digolongkan menjadi obat yang tidak berisiko didasarkan beberapa riset.

Efek Samping

Efek samping yang umumnya ditimbulkan oleh Acetylcysteine bersifat ringan serta tidak dialami oleh semua orang yang pernah mengkonsumsinya. Efek samping yang umum terjadi adalah sebagai berikut:

  • Terasa mual serta muntah
  • Lebih sulit untuk bernapas serta terasa sesak di dada
  • Timbul luka di area bibir dan juga mulut. Terkadang bisa juga timbul dalam bentuk bercak berwarna putih
  • Timbul rasa lengket pada area muka yang tertempel topeng nebulizer
  • Sakit tenggorokan, demam serta pilek

Pada kondisi tertentu, konsumsi obat Acetylcysteine dapat menimbulkan reaksi alergi yang cukup parah yang disebut dengan anafilaktik. Gejala alergi parah ini meliputi kesulitan untuk bernapas, gatal pada tubuh serta bengkak di area lidah, wajah, bibir hingga tenggorokan. Apabila Anda mengalami reaksi alergi di atas, maka segera konsultasikan ke dokter. 

Cara Konsumsi

Untuk mengkonsumsi obat ini maka obat harus dihirup dalam-dalam. Biasanya perawat ataupun dokter akan mengajarkan cara penggunaan obat. Saat menghirup pertama kali, akan tercium bau yang cukup menyengat namun tidak perlu khawatir karena bau ini akan segera hilang. Wajah akan merasa sedikit kaku setelah menghirup. Untuk itu sebaiknya segera cuci wajah untuk menghilangkan bekas obat yang lengket.

Jika ingin mengkonsumsi Acetylcysteine melalui mulut, biasanya obat harus dicampur dengan cairan seperti soda agar tidak menyebabkan muntah dan mual. Segera minum obat sekurang-kurangnya satu jam setelah obat dicampur dengan cairan lain.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis