fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Fala Adinda

Tuberkulosis adalah salah satu jenis penyakit menular yang penyebarannya melalui kuman. Indonesia sendiri menjadi negara nomor tiga dengan penderita TBC tertinggi seluruh dunia. Penyakit ini cukup mudah menular karena melalui air liur atau ludah penderita. 

Informasi

TBC adalah penyakit paru-paru yang ditimbulkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini tidak hanya menyerang paru, namun juga bisa menyerang kelenjar, tulang serta usus. 

Gejala

Untuk gejala TBC dibedakan berdasarkan jenis infeksi TBC yakni TBC laten dan TBC aktif. 

  1. TBC Laten

Sementara pada sebagian orang yang memiliki daya tahan tubuh baik, bakteri yang telah menginfeksi ke dalam tubuh tidak menyebabkan gejala apapun alias tidak aktif. Kondisi seseorang yang terinfeksi bakteri penyebab TBC (Tuberkulosis) namun tidak menimbulkan gejala disebut TB laten. 

Untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi oleh bakteri penyebab TBC (Tuberkulosis) pada pasien TB laten, maka harus dilakukan serangkaian tes berupa tes kulit TB dan juga tes darah. Meski pada awalnya tidak aktif, namun pasien tetap harus mendapatkan pengobatan. 

  1. TBC Aktif

Penderita TBC (Tuberkulosis) aktif akan terserang di bagian paru-paru oleh bakteri. Pada penderita yang aktif, bakteri bisa ditularkan ke orang lainnya.

  • Batuk berdahak dan berkepanjangan. Pada beberapa penderita mungkin tidak mengalami batuk yang berdahak. Masa batuk berlangsung dari mulai 3 minggu bahkan lebih
  • Penurunan berat badan berlebih tanpa ada perlakuan diet dan sebagainya
  • Rasa lelah berlebih
  • Nyeri pada bagian dada terutama ketika bernapas
  • Berkeringan berlebih terutama di malam hari. Badan terasa panas dingin

Penyebab

Penyakit TBC (Tuberkulosis) disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyebaran bakteri terjadi melalui percikan air liur atau ludah penderita baik itu melalui udara ataupun yang sudah menempel pada barang-barang. Percikan air liur ini akan terlepas melalui bersin dan batuk pasien. 

Pada kondisi normal dengan seseorang yang memiliki kekebalan tubuh tinggi, bakteri TBC (Tuberkulosis) sebenarnya sulit untuk menginfeksi. Namun pada kondisi tertentu, risiko terpapar semakin tinggi karena tinggal serumah. 

Faktor Risiko

Beberapa faktor di bawah ini akan meningkatkan kemungkinan seseorang menderita TBC (Tuberkulosis), seperti:

  • Kebiasaan merokok: Jumlah penderita TBC (Tuberkulosis) di Indonesia berdasarkan survei tahun 2017 menunjukkan bahwa penderita TBC (Tuberkulosis) 3 kali lebih banyak diidap laki-laki. Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini seperti ketidakpatuhan kaum laki-laki serta faktor kebiasaan merokok. Apalagi berdasarkan survei menunjukkan jumlah laki-laki yang merokok di Indonesia sebanyak 68,5%. 
  • Kebiasaan mengkonsumsi alkohol
  • Memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah karena ODHIV
  • Memiliki penyakit diabetes
  • Kekurangan nutrisi atau mengidap malnutrisi
  • Pemakai narkoba atau obat-obatan terlarang. 
  • Mengkonsumsi obat penurun kekebalan tubuh seperti yang diberikan kepada pasien kanker, lupus, penyakit Crohn, arthritis. dan psoriasis.

Diagnosis

Diagnosis penyakit TBC (Tuberkulosis) dilakukan pertama-tama dengan dokter yang menanyakan gejala atau keluhan yang dirasakan. Langkah yang dilakukan selanjutnya oleh dokter yaitu:

  • Mengecek kondisi fisik pasien

Dokter akan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara pernapasan di dalam organ paru-paru. Selanjutnya akan dilakukan pengecekan pembesaran pada kelenjar

  • Pengecekan BTA (Basil Tahan Asam)

Pengecekan BTA yakni pemeriksaan dahak dilakukan dengan cara mengambil sampel berupa dahak pasien.

  • CT Scan
  • Foto rontgen organ dalam pasien
  • Pengecekan darah IGRA atau Interferon Gamma Release Assay
  • Tes Tuberculin skin atau pengecekan kulit Mantoux

Pengobatan

Untuk mengobati TBC (Tuberkulosis) maka Anda harus segera mengunjungi dokter apabila sudah merasakan gejala yang menyertainya. Umumnya pasien TBC (Tuberkulosis) dapat disembuhkan apabila mengikuti saran pengobatan dari dokter secara disiplin. Biasanya obat rutin yang diberikan harus diminum selama 6 bulan minimal. 

Obat yang biasa diberikan oleh dokter untuk penderita TBC (Tuberkulosis) adalah:

  • Pyrazinamide
  • Isoniazid
  • Rifampicin
  • Ethambutol

Jangan sepelekan obat yang diberikan oleh dokter karena bisa menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat yang diberikan. 

Pencegahan

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan TBC (Tuberkulosis). Mengingat TBC (Tuberkulosis) dapat menular dari orang ke orang melalui percikan air liur penderita, maka pencegahannya tentu harus sangat disiplin.

  • Mendapatkan vaksin BCG

Sebenarnya TBC (Tuberkulosis) sudah ada vaksinnya untuk mengurangi risiko penularan. Di Indonesia sendiri, setiap bayi sebelum memasuki usia 2 bulan diwajibkan untuk mendapatkan imunisasi vaksin BCG agar tidak tertular TBC (Tuberkulosis) untuk meningkatkan sistem imun.

  • Menggunakan masker saat keluar rumah

Selain itu, Anda juga disarankan untuk sebaiknya sering mengenakan masker terutama ketika keluar rumah. Mengenakan masker ketika di keramaian akan membantu Anda mengurangi risiko tertular bakteri TBC (Tuberkulosis). 

  • Sering cuci tangan

Selalu cuci tangan setelah bepergian. Anda juga disarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum makan maupun menyentuh bagian wajah. Hal ini penting untuk menghindarkan Anda tertular bakteri TBC (Tuberkulosis).

Jadi dapat disimpulkan tuberkulosis adalah penyakit paru yang disebabkan bakteri.

Ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter mengenai kesehatan? Unduh aplikasi Lifepack. Tebus resep obat, bebas antri. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis