Kista

by | Jun 19, 2020 | direktoriPenyakit, penyakitK | 0 comments

Ditinjau oleh: dr. Irma Lidia

Kista merupakan benjolan yang berada dibawah kulit berisi cairan, udara, atau zat padat seperti rambut. Benjolan ini dapat tumbuh dibagian tubuh manapun dan diakibatkan oleh berbagai faktor, misalnya infeksi, radang, atau keturunan.

Kista dapat terbentuk di dalam jaringan di dalam tubuh. Sebagian besar kista di paru-paru dipenuhi udara. Kista yang terbentuk di sistem getah bening atau ginjal dipenuhi cairan. Parasit tertentu, seperti beberapa jenis cacing gelang dan cacing pita juga dapat membentuk kista di dalam otot, hati, otak, paru-paru, dan mata.

Informasi

Benjolan kista berbentuk seperti kapsul atau kantung dengan ukuran yang bervariasi, mulai dari yang sangat kecil hingga sangat besar. Apabila benjolan berukuran besar, maka dapat menghimpit organ dalam yang ada disekitarnya. 

Kista, miom, dan tumor adalah tiga hal yang berbeda. Kista merupakan sebuah kantong yang berisi cairan, udara, atau bahan lainnya bersifat abnormal dan menempel di organ terdekat. Sedangkan miom adalah tumor jinak yang tumbuh di otot atau jaringan ikat pada rahim wanita. Satu lagi, tumor adalah massa jaringan tidak normal yang berisi padatan atau cairan. Tumor atau benjolan yang berisi cairan ini disebut kista.

Gejala

Benjolan kista dapat tumbuh di kulit wajah, leher, dada, punggung, kulit kepala, telapak tangan, dan telapak kaki. Kista biasanya tidak menimbulkan gejala sampai kista itu pecah. Namun jika pecah dapat menimbulkan gejala seperti kulit kemerahan, di area sekitar kista. Selain itu keluar darah atau nanah berbau tidak sedap, serta infeksi akan memicu rasa nyeri pada kista.

Pada pergelangan, kista ganglion dapat muncul secara mendadak dan tumbuh dengan cepat. Kista ini dapat sakit bila tersentuh dan dapat melemahkan genggaman.

Pada kista ovarium, ketika benjolan ruptur dapat menyebabkan nyeri parah di perut bagian bawah.

Kista pada payudara biasa terjadi tanpa gejala dan dapat berubah ukuran dan sensitivitas selama siklus menstruasi.

Pada vagina, kista kelenjar bartholin biasanya menyebabkan nyeri, dan terkadang terdapat nanah yang keluar.

Sedangkan pada serviks, biasanya tidak disertai dengan gejala.

Lebih lanjut, gejala kista yang ditunjukkan tergantung dimana tempat tumbuhnya benjolan ini. Apabila gejala yang dialami semakin parah, Anda harus segera menghubungi dokter.

Penyebab

Berikut ini adalah penyebab yang memperparah atau memicu munculnya kista.

  • Kondisi genetik
  • Tumor
  • Infeksi
  • Kelainan pada perkembangan embrio
  • Cacat pada sel
  • Inflamasi kronis
  • Penyumbatan pada saluran tubuh
  • Parasit
  • Cidera 

Faktor Risiko

Faktor risiko kista diantaranya adalah  faktor genetik, cacat pada organ yang berkembang, infeksi, tumor, dan sumbatan pada aliran cairan dalam tubuh, minyak atau zat lainnya. Selain itu, faktor lain yang meningkatkan risiko kista adalah sebagai berikut.

Usia

Wanita yang berusia antara usia pubertas hingga menopause memiliki risiko tertinggi untuk mengalami kista ovarium. Apabila benjolan dapat hilang sendiri, hal ini bukanlah masalah. Namun, seorang wanita yang sudah menopause dan memiliki kista di ovarium akan berisiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.

Kemoterapi dengan tamoxifen

Wanita penderita kanker payudara dan pernah menjalankan kemoterapi dengan tamoxifen berisiko memiliki benjolan berisi cairan di ovarium. Tamoxifen inilah yang menyebabkan terbentuknya kista. Namun, benjolan ini dapat hilang setelah pengobatan selesai.

Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

PCOS terjadi apabila tubuh tidak memproduksi hormon yang cukup bagi folikel di ovarium untuk melepaskan sel telur sehingga terbentuklah benjolan folikel atau kista kecil-kecil.

  • Endometriosis

Endometriosis terjadi ketika bagian dari jaringan yang melapisi rahim terbentuk di bagian luar rahim seperti tuba falopi, ovarium, kandung kemih, usus besar, vagina, hingga rektum. 

Obat penyubur kandungan

Penggunaan obat ini dapat memicu terbentuknya kista dalam jumlah banyak dan berukuran besar pada ovarium yang disebut dengan sindrom hiperstimulasi ovarium.

Diagnosis

Dokter akan memulai diagnosis benjolan kista ini dengan pemeriksaan fisik. Namun, untuk memastikannya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, diantaranya sebagai berikut.

Uji pencitraan

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengamati isi benjolan, apakah kemungkinan bersifat kanker atau tidak. Uji pencitraan dilakukan apabila benjolan tidak terlihat langsung seperti kista ovarium dengan menjalankan beberapa pemeriksaan seperti USG, CT scan, atau MRI.

Biopsi 

Teknik pengambilan sampel jaringan kista untuk diteliti apakah bersifat kanker atau tidak.

Pengobatan

Kista dapat hilang dengan sendirinya. Anda dapat mempercepat proses ini dengan mengompres kista menggunakan air hangat. Jangan coba pecahkan kista sendiri karena berakibat infeksi. Apabila tidak kunjung hilang, kunjungi dokter untuk mendapatkan perawatan dan penanganan medis. Beberapa langkah yang diambil dokter untuk menghilangkan kista diantaranya sebagai berikut.

  • Menyuntikan kortikosteroid untuk mengurangi radang kista
  • Menusuk kista dengan jarum lalu penyedotan (aspirasi) cairan dalam kista
  • Mengangkat kista melalui operasi apabila aspirasi tidak berhasil.

Selain langkah pengobatan diatas, Anda dapat mengatasi kista secara mandiri dirumah dengan cara berikut.

  • Konsumsi tanaman echinacea selama 20 hari rutin untuk meningkatkan sel darah putih. 
  • Konsumsi satu porsi dandelion hijau mentah yang mengandung 218 mg potassium.
  • Konsumsi karbohidrat kompleks seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian sebagai pengganti asupan karbohidrat.
  • Jaga asupan makanan dengan indeks glikemik rendah.

Pencegahan

Berikut ini adalah upaya pencegahan munculnya kista yang dapat Anda lakukan.

  • Minum pil KB untuk mencegah terbentuknya kista ovarium
  • Bersihkan kelopak mata menggunakan pembersih yang lembut untuk mencegah kalazion
  • Menjaga kulit tetap kering dan bersih serta jangan duduk terlalu lama untuk menghindari kista pilonidal.