fbpx

Halusinasi Akustik Phonema: Penyebab dan Tahapannya

Sep 25, 2020 | Hidup Sehat | 0 Komentar

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Fala Adinda

Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa objek. Bagi penderita, kualitas persepsi tersebut sangat jelas, substansial, dan seolah berasal dari luar ruang nyatanya. Jadi, halusinasi berbeda dengan mimpi, berkhayal, ilusi, dan pseudo halusinasi.

Halusinasi adalah salah satu gejala dari pasien gangguan jiwa (skizofrenia) dan pecandu narkoba (Baca juga Mengenal Skizofrenia, Penyakit Mental yang Perlu Diwaspadai). Namun terdapat banyak alasan lainnya yang menjadi penyebab dari halusinasi. Dari seluruh pasien skizofrenia, 70% diantaranya mengalami halusinasi. Tidak hanya itu, gangguan ini juga bisa terjadi pada orang normal, ketika pergantian waktu tidur dan waktu bangun yang disebut dengan halusinasi hipnagogik. Sedangkan gangguan jiwa lain yang diikuti dengan gejala halusinasi yaitu gangguan manik depresif dan delerium.

Jenis-jenis Halusinasi

Halusinasi Akustik (Pendengaran)

Gangguan ini terdiri dari dua bentuk yaitu:

  • Akoasma, penderita mendengar suara-suara kacau balau yang tidak bisa dibedakan dengan tegas.
  • Phonema, penderita mendengar suara-suara jelas yang berasal dari manusia. Penderita mendengar kata-kata dan kalimat-kalimat tertentu, seperti orang berbicara atau membicarakan sesuatu. Jenis halusinasi akustik phonema ini sering dialami oleh penderita diantara jenis halusinasi yang lain.

Halusinasi Visual (Penglihatan)

Penderita mengalami persepsi yang salah pada pandangannya. Jenis halusinasi ini, bisa berupa bentuk, warna, dan kilatan cahaya, namun lebih sering tokoh manusia. Misalnya, penderita halusinasi visual seolah melihat ada orang yang berdiri di belakangnya, walaupun tidak ada siapa-siapa. Banyak sekali penyebab yang dapat menjadi alasan dari halusinasi jenis ini.

Halusinasi Pengecapan (Gustatory)

Penderita mengalami persepsi yang salah terkait rasa. Pengalaman ini biasanya berlangsung sangat tidak menyenangkan. Misalnya, penderita sering mengeluhkan rasa logam secara terus menerus. Kondisi ini sering terlihat di beberapa gangguan medis, seperti epilepsi daripada penderita gangguan mental.

Halusinasi Penciuman (Olfaktori)

Jenis halusinasi ini melibatkan berbagai bau yang sebenarnya tidak ada atau real. Bau yang tercium oleh penderita biasanya tidak menyenangkan, seperti bau muntah, urin, feses, asap, dan daging yang busuk. Kondisi ini sering disebut phantosmia yang diakibatkan oleh kerusakan saraf pada bagian indera penciuman. Kerusakan ini bisa terjadi karena virus, trauma, tumor otak, dan paparan zat beracun atau obat-obatan tertentu. Phantosmia bisa juga disebabkan kondisi medis yaitu epilepsi.

Halusinasi Sentuhan (Taktil)

Penderita halusinasi sentuhan (taktil) mengalami sensasi sentuhan yang palsu dari dalam atau pada tubuhnya. Bentuk halusinasi ini, penderita seolah merasa ada sesuatu yang merangkak di bagian bawah atau kulitnya yang disebut sebagai formikasi. Contoh lainnya, penderita merasa kesetrum pada bagian tubuh dan merasa disentuh oleh orang lain,  meskipun sebenarnya tidak ada orang disekitarnya. Sensasi fisik ini berasal dari gangguan medis dan hypochondriacal preoccupations yang tidak termasuk halusinasi somatik.

Halusinasi Somatik

Penderita halusinasi somatik seolah merasakan nyeri yang luar biasa, seperti mutilasi atau pergeseran sendi. Ada juga pasien yang merasa diserang oleh hewan buas, seperti ular yang merayap di perut.

Penyebab Halusinasi Akustik Phonema

Gangguan Jiwa

Gangguan mental menyebabkan seseorang tidak dapat membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Halusinasi pendengaran ini sering dialami oleh penderita Skizofrenia. Namun, kondisi ini juga bisa dialami oleh penderita gangguan bipolar, kepribadian ambang, depresi berat, PTSD, dan skizoafektif.

Mengonsumsi Alkohol dan Obat-obatan Terlarang

Konsumsi minuman keras dan obatan-obatan terlarang sering menjadi penyebab seseorang mendengar dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada (halusinasi). Kondisi ini dialami oleh pecandu berat atau dalam masa sakau.

Penyakit Alzheimer dan Tumor Otak

Penyakit degeneratif otak sering menjadi penyebab mengapa seseorang mengalami halusinasi. Penderita penyakit ini rentan mengalami halusinasi akustik, baik akoasma atau phonema. Bahkan, beberapa orang mendengar suara nyata dan diikuti gambar visual yang meyakinkan. Sedangkan, bagi penderita tumor otak dapat mengalami halusinasi akustik karena indera pendengarannya terganggu.

  • Gangguan pendengaran
  • Migrain 
  • Efek samping Obat
  • Penyebab lainnya, seperti kekurangan waktu tidur, demam tinggi, penyakit stadium akhir, cacat indera pendengaran, epilepsi, dan isolasi sosial.

Tahapan Halusinasi

Halusinasi dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

  • Sleep disorder merupakan tahap awal sebelum muncul halusinasi. Seseorang merasa memiliki banyak masalah tanpa disertai support system yang baik, sehingga persepsi terhadap masalah semakin buruk. Kondisi tersebut mengakibatkan seseorang susah tidur hingga akhirnya terbiasa menghayal sebagai awal pemecah masalah.
  • Comforting merupakan tahap menyenangkan dari halusinasi: cemas sedang. Seseorang akan mengalami perasaan cemas yang mendalam, kesepian, takut, dan sebagainya sehingga terkadang tersenyum, tertawa sendiri, dan menggerakkan bibir tanpa suara.
  • Condemning merupakan tahap menjijikkan dari halusinasi dan tergolong cemas berat. Penderita merasa pengalaman sensori yang menakutkan dan kehilangan kemampuan membedakan antara halusinasi dengan realita.
  • Controlling merupakan tahap halusinasi yang berkuasa, kategori cemas berat. Penderita sudah mulai patuh terhadap perintah halusinasi dan sulit berhubungan dengan orang lain. Isi halusinasi menjadi menarik dan merasa kesepian jika sensori halusinasi berhenti.
  • Conquering merupakan tahap halusinasi panik. Penderita tidak mampu merespon lingkungan, panik, dan berisiko tinggi mencederai hingga bunuh diri.

Halusinasi harus mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter dengan memperhitungkan faktor penyebabnya. Pemberian obat bertujuan untuk memperlambat kerja otak. Jika menimbulkan efek samping, dokter akan mengurangi dosisnya.

Ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter mengenai kesehatan? Unduh aplikasi Lifepack. Tebus resep obat, bebas antri. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis