fbpx

Artikel ini telah ditinjau oleh Nada Karisma

Ditinjau oleh: dr. Irma Lidia

Penyakit Alzheimer merupakan penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku penderita secara bertahap yang bukan proses penuaan normal. Umumnya, kondisi ini ditemukan pada orang-orang berusia diatas 65 tahun.

Informasi  

Alzheimer dikatakan sebagai penyebab demensia yang paling umum karena telah terjadi pada 60-80 persen dari kasus demensia di dunia. Demensia adalah gangguan otak yang menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan intelektual dan sosial. Demensia tergolong penyakit progresif yang mengganggu fungsi mental seseorang seperti perilaku dan memorinya.

Gejala  

Alzheimer ditandai dengan gejala-gejala demensia dan akan memburuk seiring berjalannya waktu, umumnya dalam hitungan tahun. Pada stadium awal, pengidap Alzheimer akan mengalami penurunan daya ingat yang ringan dan seringkali tidak disadari pengidap ataupun orang-orang sekitarnya. Stadium selanjutnya, gejala Alzheimer akan semakin parah sehingga pengidap tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain ataupun merespon lingkungan sekitarnya. 

Sebenarnya, penurunan kemampuan otak untuk berpikir dan mengingat adalah hal yang wajar terjadi seiring penuaan yang normal. Namun, ketika penurunan daya ingat disertai dengan kebingungan dan perubahan besar dalam cara berpikir seseorang, dapat dikatakan bahwa terdapat tanda-tanda adanya kerusakan sel-sel otak dengan gejala awal menurunnya kemampuan mengingat atau mempelajari hal yang baru. Seiring menyebarnya Alzheimer ke otak lebih luas, maka gejala yang muncul pun akan lebih berat seperti kehilangan memori yang serius, perubahan perilaku yang ekstrim, kesulitan menelan, berbicara, hingga berjalan.

Penyebab 

Otak bertugas untuk mengatur apa yang harus dilakukan oleh seluruh bagian tubuh. Dengan 100 miliar sel saraf didalamnya, setiap sel saraf tersebut saling terhubung untuk beberapa pekerjaan seperti berpikir, belajar, dan mengingat. Ada juga sekelompok sel saraf yang membantu kita melihat dan mendengar sesuatu. 

Nah, dalam menjalankan tugasnya, sel otak beroperasi seperti pabrik-pabrik kecil dimana masing-masing memiliki peran tersendiri mulai dari menerima persediaan, menghasilkan energi, membangun peralatan, hingga membuang limbah. Apabila seseorang mengidap Alzheimer, maka akan mengganggu salah satu bagian pabrik sel saraf. Seperti halnya pabrik nyata, ketika salah satu bagian terganggu, maka akan berpengaruh terhadap bagian lainnya. Ketika kerusakan pada otak sudah menyebar, sel-sel saraf pun akan kehilangan kemampuannya.

Faktor Risiko  

Waspadalah terhadap Alzheimer karena ada beberapa hal yang meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit ini seperti usia lebih dari 60 tahun, riwayat keluarga dan genetik, sindrom down, gangguan kognitif ringan, gaya hidup dan kesehatan jantung, obesitas, merokok, riwayat trauma kepala, diabetes melitus tipe 2, tingkat edukasi yang rendah, dan dyslipidemia. Selain itu alzheimer juga lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Diagnosis  

Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mengonfirmasi seseorang mengidap Alzheimer. Dokter akan menilai berdasarkan gejala dan tes untuk menguatkan diagnosisnya. 

Tes pertama berupa pemeriksaan fisik dan neurologis dengan menguji refleks, nada dan kekuatan otot, kemampuan untuk bangkit dari kursi dan berjalan melintasi ruangan, indera penglihatan dan pendengaran, koordinasi, dan keseimbangan. Tes kedua berupa tes laboratorium untuk menyingkirkan penyebab potensi kehilangan memori dan kebingungan lainnya. Tes ketiga untuk menilai memori dan keterampilan berpikir lainnya, serta uji pemikiran dan memori yang lebih luas.

Tes keempat berupa pencitraan otak untuk menunjukkan adakah kelainan lain yang terlihat terkait kondisi selain Alzheimer, seperti stroke, trauma, atau tumor. Ada beberapa teknologi pencitraan otak yang digunakan dokter yaitu pencitraan resonansi magnetik (MRI), komputerisasi tomografi (CT) scan, Positron Emission Tomography (PET), dan cairan serebrospinal.

Pengobatan  

Alzheimer tidak dapat disembuhkan dan hanya bisa diatasi dengan obat untuk memperlambat perkembangan penyakit ini. Obat penenang tambahan mungkin juga diresepkan oleh dokter untuk mengurangi kecemasan, depresi, mudah marah, dan masalah perilaku lainnya. Pengidap Alzheimer akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Jadi, jika tidak terlalu penting, jangan mencoba mengubah lingkungan pasien.

Obat Alzheimer tingkat rendah hingga sedang yang mungkin diresepkan oleh dokter adalah donepezil (Aricept) atau rivastigmine (Exelon). Peran obat ini untuk mempertahankan kadar asetilkolin tetap tinggi dalam otak. Sedangkan untuk tingkat Alzheimer yang sedang hingga parah, obat yang mungkin diresepkan adalah donepezil (Aricept) atau memantine (Namenda). Peran memantine ini untuk memblokir efek glutamat yang berlebih, yaitu zat kimia yang dilepaskan dalam jumlah tinggi dan merusak sel-sel otak. Selain itu, beberapa jenis obat antidepresan, anti kecemasan, atau antipsikotik juga mungkin diresepkan oleh dokter untuk mengobati gejala Alzheimer.

Tidak hanya berupa obat, pengidap Alzheimer juga dianjurkan untuk melakukan berbagai perubahan gaya hidup atau pengobatan untuk mengatasi Alzheimer.

Pencegahan  

Untuk mencegah penyakit Alzheimer, maka mari kita lakukan berbagai upaya seperti berhenti merokok, menjaga berat badan supaya tetap ideal, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, serta rutin berolahraga. Selain itu mengurangi konsumsi makanan yang tinggi akan lemak jenuh, lemak trans, serta garam juga dapat menurunkan risiko untuk terserang Alzheimer.

Jika Anda curiga terhadap anggota keluarga dengan kondisi Alzheimer, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis

Dapatkan Kemudahan Pengobatan
di Ujung Jari Anda

∘ Dukungan Apoteker setiap saat
∘ Reminder jam minum obat
∘ Refill sebelum habis