Skip to content
Lifepack.id

Herbesser 30MG 100 Tablet - Obat Antihipertensi

Beli produk Ini


Herbesser 30MG 100 Tablet - Obat Antihipertensi

Dapatkan Produk Ini

Obat ini memerlukan resep. Konsultasi dengan dokter dulu di aplikasi Lifepack.



Jaminan untuk Anda

Jaminan untuk Anda

Herbesser 30 mg adalah obat yang mengandung bahan aktif diltiazem hydrochloride 30 mg. Obat ini digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi pada penderita hipertensi, mengobati angina pektoris dan aritmia. Obat ini masuk ke dalam golongan calcium channel blockers yang bekerja dengan cara menghambat ion-ion kalsium masuk ke dalam otot polos pembuluh darah dan jantung.

Herbesser 30 MG
Golongan ObatObat keras. Harus dibeli dengan resep dokter
KomposisiDiltiazem hydrochloride
Klasifikasi ObatObat hipertensi
KemasanDus, 10 Strip @10 Tablet
Petunjuk PenyimpananSimpan obat di tempat dengan suhu di bawah suhu 30° C, kering, dan jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Letakkan obat di tempat yang tidak mudah dijangkau oleh anak-anak.
ProdusenTanabe Indonesia
Nomor Izin EdarDKL8925200310A1
Tanggal Kedaluwarsa<!--td {border: 1px solid #cccccc;}br {mso-data-placement:same-cell;}-->11/1/2025

Mengapa Memilih Herbesser 30 MG

  • Menghambat ion-ion kalsium masuk ke dalam sel otot polos pada pembuluh darah dan jantung
  • Memperlebar pembuluh darah
  • Menurunkan kontraksi otot jantung

Kenapa Beli di Lifepack

  • Jaminan 100% obat asli
  • Harga lebih murah
  • Tanpa antri dan dikirim gratis ke tangan Anda

Manfaat

  • Menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi
  • Mengobati angina pektoris
  • Mengobati aritmia

Cara Konsumsi dan Dosis

Obat ini hanya dapat dikonsumsi sesuai dengan resep dokter. Berikut dosis dan cara konsumsi obat:

  • Hipertensi : Diberikan dosis sebanyak 1-2 tablet yang dikonsumsi 3 kali sehari atau sesuai dengan anjuran dokter.
  • Angina pektoris dan angina varian 1 tablet yang dikonsumsi 3 kali sehari atau sesuai dengan anjuran dokter.
  • Obat ini sebaiknya dikonsumsi setelah makan.

Efek Samping

Terdapat beberapa efek samping yang terjadi akibat penggunaan obat ini, yaitu :

  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Nyeri perut
  • Rasa kantuk
  • Bradikardi
  • Blokade AV
  • Jantung berdebar-debar
  • Palpitasi

Hentikan pemakaian obat ini jika terjadi reaksi alergi atau efek samping yang tidak biasa. Segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Perhatian Penggunaan

Obat Herbesser 30 mg dikontraindikasikan penggunaannya oleh orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti :

  • Orang dengan riwayat hipersensitivitas terhadap kandungan diltiazem hydrochloride
  • Penderita gangguan fungsi hati
  • Penyakit ginjal
  • Gagal jantung kongestif
  • Blokade AV derajat 1
  • Syok kardiogenik
  • Takikardi
  • Infark miokard
  • Hipotensi
  • Orang dengan usia lanjut
  • Wanita hamil atau menyusui

Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter jika Anda memiliki masalah kesehatan tertentu.

Interaksi dengan Obat Lain

Obat ini sebaiknya tidak digunakan bersamaan dengan obat-obatan lain guna mencegah interaksi obat. Obat ini tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat-obatan seperti:

  • Obat-obatan golongan anti hipertensi lainnya
  • Atorvastatin
  • Carbamazepine
  • Fenitoin
  • Clonidine

Jika Anda memerlukan penggunaan obat ini bersamaan dengan obat lain, konsultasikan dengan dokter obat-obatan yang perlu digunakan bersamaan dengan obat Herbesser 30 mg tablet.

Kandungan per kapsul

  • Diltiazem Hcl 30 mg
<p>Diltiazem adalah obat yang dikenal dalam golongan calcium channel blocker (CCB) non-dihidropiridin. Sesuai namanya, diltiazem menghadang masuknya kalsium ke dalam sel-sel otot jantung dan sekitar pembuluh darah arteri, yang mana dapat membuat sel berkontraksi. Obat ini punya fungsi utama untuk pengobatan tekanan darah tinggi dan nyeri dada (angina) serta untuk perawatan penyakit lainnya. Adapun manfaat diltiazem di antaranya:</p> <p>-Menurunkan tekanan darah serta meredakan angina: sebagai obat CCB, diltiazem menghadang jalur masuknya kalsium ke dalam sel-sel otot jantung dan pembuluh darah arteri. Kontraksi yang disebabkan kalsium yang masuk akan membuat jantung mengalami kontraksi dan pembuluh darah pun menjadi menyempit. </p> <p>CCB yang punya fungsi utama menekan masuknya kalsium akan berdampak pada kontraksi jantung yang menurun. Selain itu, komponen ini juga menenangkan otot-otot di sekitar pembuluh darah arteri sehingga memicunya untuk mengalami pelebaran. Karenanya obat ini digunakan untuk pengobatan hipertensi. </p> <p>Peran diltiazem dalam melebarkan pembuluh arteri juga dapat mengurangi tekanan di bagian tersebut, yang memaksa jantung untuk lebih memompa darah dan menyuplai banyak oksigen. Efek diltiazem ini bermanfaat untuk penyakit angina, yang terjadi karena jantung bekerja keras menyuplai oksigen. Dengan, menurunkan beban kerja jantung, diltiazem dapat memberi efek meredakan atau mencegah timbulnya penyakit angina. </p> <p>Diltiazem sendiri merupakan obat yang memiliki potensi efektif sebagai vasodilator (pelebar pembuluh darah). Oleh karenanya, obat ini digunakan untuk penderita angina kronis dan vasospasme koroner yang dapat berujung pada kondisi lemahnya organ, seperti kasus infark miokard. </p> <p>-Untuk pengobatan aritmia: CCB digunakan untuk menurunkan detak jantung dan kekuatan kontraksi sel jantung pada pasien gangguan irama jantung (aritmia) fibrilasi atrium ataupun takikardia supraventrikular. Studi juga pernah mengemukakan bila diltiazem dapat menurunkan denyut jantung ventrikel dan gejala yang berkaitan dengan aritmia pada pasien yang mengalami fibrilasi atrium permanen. Temuan dari studi tersebut menyimpulkan bila diltiazem merupakan pengobatan efektif untuk menurunkan detak jantung. </p> <p>Beberapa studi menyebut bila kontrol respon ventrikel selama fibrilasi atrium sebaiknya dilakukan dengan penggunaan bolus intravena yang diikuti dengan infusi diltiazem yang berlanjut. </p> <p>Studi lainnya juga mengemukakan bila diltiazem dapat menjadi pilihan perawatan pertama pada pasien dengan takikardia supraventrikular kompleks-sempit. Hal ini didapati dari hasil pengujian yang menyatakan bila 95% pasien takikardia supraventrikular kembali pada kondisi ritme sinus normal setelah pemberian diltiazem. Hal tersebut berbeda dengan pembandingnya, yakni adenosine, yang cuma mencapai 71,9%.</p>

Produk Terkait

Lihat Semua