Penyakit autoimun biasanya memburuk dalam jangka waktu bertahun-tahun sebelum bisa didiagnosis secara klinis. Jika sudah terdiagnosis, biasanya penyakit akan berlangsung seumur hidup. Mari simak 5 penyakit autoimun yang paling umum diderita oleh masyarakat Indonesia, beserta gejalanya yang perlu Anda waspadai.
Penjelasan Penyakit Autoimun
Seluruh organ dan jaringan sel dalam tubuh manusia harus berfungsi tanpa gangguan agar tetap sehat. Sudah sewajarnya penyakit, bakteri, parasit, virus, dan sel kanker yang masuk ke dalam tubuh akan ditangani oleh sistem kekebalan untuk melindungi tubuh Anda.
Namun, sistem kekebalan pada sebagian orang secara tidak sengaja akan menyerang tubuh alih-alih melindunginya. Inilah yang disebut dengan penyakit autoimun. Penyakit autoimun dapat mempengaruhi berbagai jenis jaringan dan organ dalam tubuh Anda.
Hingga saat ini tercatat sudah ada 100 penyakit autoimun, termasuk lupus, rheumatoid arthritis, penyakit Crohn, dan kolitis ulseratif. Gejala autoimun pada umumnya adalah nyeri, kelelahan, ruam, mual, sakit kepala, pusing, dan banyak lagi sesuai dengan penyakitnya.
John Hopkins University (https://pathology.jhu.edu/autoimmune/development) penyakit autoimun disebabkan oleh gen, sistem imunitas, dan lingkungan hidup. Gen menentukan riwayat kerentanan seseorang terhadap suatu penyakit. Jika seseorang memiliki kerentanan yang rendah secara genetik, sistem imunitas akan cenderung menjadi lebih tidak teratur dan akan menyebabkan kerusakan patologis. Pada akhirnya, penyakit autoimun dapat dipicu oleh lingkungan tinggal seseorang.
Jenis Penyakit Autoimun
1. Arthritis rheumatoid
Arthritis rheumatoid atau biasa disingkat RA merupakan penyakit autoimun jangka panjang yang paling umum. Penyakit RA akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat di segala persendian, termasuk tangan, pergelangan tangan, dan lutut.
Gejala arthritis rheumatoid adalah:
- Nyeri dan bengkak di sekitar persendian
- Kaku sendi
- Lemah sendi
- Gangguan sendi muncul di kedua sisi tubuh, seperti kedua tangan atau lutut
- Penurunan berat badan
- Kelelahan
2. Diabetes tipe 1
Diabetes tipe 1 akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel beta di pankreas yang memproduksi insulin. Pankreas tidak mampu membuat insulin dan penderita akan mengalami defisiensi insulin. Defisiensi insulin akan meningkatkan kadar gula darah karena gula tidak dapat disebarkan ke seluruh tubuh dengan baik.
Gejala diabetes tipe 1 adalah:
- Sering buang air kecil (beser)
- Merasa haus setiap saat
- Kehilangan energi
- Penglihatan kabur
- Kelaparan
- Mual
3. Inflammatory bowel disease (IBD)
Penyakit autoimun yang satu ini akan menyerang seluruh sistem pencernaan Anda mulai dari merusak lapisan usus, menyebabkan diare, pendarahan dubur, buang air besar yang mendadak, sakit perut, demam, dan penurunan berat badan.
Gejala IBD adalah:
- Sakit perut
- Kembung
- Diare konstan
- Darah dalam tinja
- Penurunan berat badan
- Kelelahan
4. Penyakit celiac
Penyakit celiac menyebabkan penderita tidak dapat mengonsumsi segala jenis makanan yang mengandung gluten. Gluten sendiri adalah protein yang terkandung di dalam gandum, gandum hitam, dan produk biji-bijian lainnya. Sistem kekebalan akan menyerang bagian saluran pencernaan dan menyebabkan peradangan usus ketika gluten masuk ke dalam usus kecil.
Gejala penyakit celiac adalah:
- Peradangan dan nyeri di perut
- Sensasi terbakar di dada
- Kelelahan
- Penurunan berat badan
- Ruam
- Nyeri sendi
- Muntah atau diare
5. Lupus
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit peradangan pada kulit dan persendian. Pada kondisi yang lebih parah, penyakit lupus bahkan dapat menyerang organ dalam.
Gejala SLE meliputi:
- Nyeri otot dan sendi
- Ruam berbentuk kupu-kupu di wajah
- Sensitivitas matahari
- Kelelahan
- Demam
Hubungan antara COVID-19 dan penyakit autoimun
Menurut penelitian, penyakit COVID-19 yang parah berpotensi menyebabkan penderitanya mengalami kondisi autoimun. Sebuah (https://www.channelnewsasia.com/business/severe-covid-19-may-trigger-autoimmune-conditions-new-variants-cause-more-virus-air-2195721) diterbitkan oleh Nature Communications menyatakan bahwa virus COVID-19 dapat mengelabui sistem kekebalan untuk memproduksi autoantibodi. Autoantibodi ini malah akan menyerang jaringan sehat dan menyebabkan terjadinya inflamasi.
Pada 50% pasien COVID-19 yang mereka teliti, ditemukan meningkatnya produksi autoantibodi. Saat perkembangan autoantibodi dilacak, sekitar 20% antibodi baru diproduksi hanya dalam waktu seminggu sejak mereka dirawat.
Pemimpin penelitian, Dr. Paul Utz dari Universitas Stanford, menyatakan bahwa ada potensi autoantibodi yang berlebihan tersebut dapat memicu autoimunitas. Namun, Ia menambahkan penelitian ini masih berlangsung seiring dengan perkembangan COVID-19. Peneliti juga belum mengetahui jika antibodi baru tersebut akan bertahan lama hingga satu sampai dua tahun kemudian.
Cara mencegah penyakit autoimun
Penyakit autoimun pada umumnya bersifat keturunan, tetapi Anda harus selalu menjaga kesehatan karena penyakit pada umumnya baru dapat didiagnosa setelah penyakit dalam fase kronis.
Berikut beberapa cara pencegahan penyakit autoimun:
1. Makan makanan Mediterania
Tingkatkan asupan nutrisi untuk mendapatkan pencernaan yang sehat. Salah satu pola makanan yang aman untuk penyakit autoimun adalah makanan ala Mediterania. Resep makanan Mediterania umumnya memiliki kandungan serat, prebiotik, dan antioksidan dapat membantu mengurangi inflamasi. Antioksidan, zat besi, dan asam lemak omega-3 semuanya memiliki kandungan yang baik untuk melawan penyakit autoimunitas.
2. Kenali makanan yang tidak dapat Anda toleransi
Anda bisa mengecek makanan yang tidak dapat Anda toleransi dengan berkonsultasi ke ahli gizi dan dokter. Mengonsumsi makanan yang tidak cocok untuk tubuh Anda dapat menyebabkan masalah dengan pencernaan yang akan meningkatkan kondisi autoimun. Pada umumnya, makanan yang tidak dapat ditoleransi adalah gandum, produk susu, dan fruktosa.
3. Kelola tingkat stres Anda
Stres yang berlebih dapat meningkatkan serangan autoimun. Segera lakukan aktivitas yang dapat mengurangi stress seperti meditasi, yoga, berjalan santai, dan sebagainya. Lakukan juga rutinitas yang bisa membuat Anda mengontrol stres dengan baik bahkan sebelum stres muncul, misalnya menulis buku harian atau gratitude journal.
Demikian informasi seputar jenis-jenis penyakit autoimun beserta gejalanya yang perlu diwaspadai. Karena tergolong ke dalam obat keras, obat-obatan untuk pasien penderita penyakit autoimun hanya bisa didapatkan melalui konsultasi dokter dengan obat resep. Dapatkan informasi dan kebutuhan kesehatan Anda hanya di Apotek Lifepack.
Ingin konsultasi dokter dan tebus obat resep?
Nikmati kemudahan konsultasi GRATIS dengan tim dokter berpengalaman Apotek Lifepack. Sampaikan keluhan dan kebutuhan obat Anda langsung ke dokter kami melalui WhatsApp di nomor 0811 1062 5888 atau melalui (http://wa.me/6281110625888).
Dengan layanan digital Apotek Lifepack yang telah terintegrasi, Anda tidak perlu lagi antre ketika menebus resep obat. Apoteker kami akan membantu memvalidasi resep Anda. Layanan tebus resep akan sangat membantu kebutuhan obat rutin pasien kronis.
Apa Itu Apotek Lifepack?
Apotek Lifepack menyediakan beragam (https://lifepack.id/produk/) dengan harga hemat, produk original berlisensi BPOM, dan gratis ongkir se-Indonesia. Layanan Lifepack tersedia secara online maupun offline. Dapatkan konsultasi dokter gratis dan program prioritas obat rutin secara khusus di layanan online kami.
Kunjungi juga apotek offline kami di berbagai kota besar. Jakarta di alamat Infinia Park, Jl. Dr. Saharjo No.45, Manggarai, Tebet. Sedangkan Surabaya di Jl. Raya Manyar 11 F, Menur Pumpungan. Untuk warga Bandung, Anda juga bisa membeli obat di Apotek Lifepack Bandung di Jl. Abdul Rahman Saleh Nomor 1A Ruko D, Cicendo. Nantikan kehadiran Apotek Lifepack di kota-kota besar Indonesia lainnya.
Jangan ragu juga untuk hubungi WhatsApp di nomor (http://wa.me/6281110625888) untuk beli obat, tebus resep, layanan konsultasi, dan lain-lainnya. Tim Asisten Apoteker kami akan membalas pesan Anda pada jadwal operasional, yaitu hari Senin – Minggu, pukul 07.00 – 23.00. (https://lifepack.id/informasi-apotek-lifepack/).
















